Tradisi Riungan Jelang Idul Adha Masih Berlanjut di Cilegon, Salah Satunya di Kapudenok Julalen
CILEGON – Suasana takbir, tahmid dan tahlil menjelang Idul Adha 1444 H, mulai menggema di Masjid Jami’ul Barokah, Jl. Ir. Sutami Link. Kapudenok Julalen, RT 03 RW 01, Kelurahan Lebak Denok, Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon, pada Rabu (28/6/2023).
Para orang tua, orang dewasa, para remaja, anak-anak bersama-sama melantunkan, takbir, tahmid dan tahlil secara bersama-sama dalam kegiatan tradisi riungan Menjelang Idul Adha 1444 H, di Kelurahan Lebak Denok, Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon.
Salah satu tokoh masyarakat dan agama di Lingkungan Kapudenok Julalen, Kelurahan Lebak Denok, Maftuhi mengatakan, tradisi riungan atau bertukar makanan antara warga yang satu dengan yang lain disertai dengan bacaan tahlil dan doa menjelang Idul Adha 1444 H sudah menjadi rutinitas jangka panjang sejak jaman dahulu.
“Kegiatan riungan ini sudah tradisi bagi kami dan sudah turun temurun dari nenek moyang. Sudah sejak tokoh masyarakat dan sesepuh di Kapudenok Julalen ini. Sejak sekitar tahun 1978, tradisi riungan ini sudah ada dan sampai saat ini masih bertahan,” kata Maftuhi saat diwawancarai seusai acara riungan Rabu (28/6/2023) malam.

Ia menuturkan, tradisi riungan bukan hanya menjelang Idul Adha 1443 H saja, namun dilakukan banyak sekali untuk menyambut hari-hari besar Islam seperti menjelang puasa ramadhan, menjelang tahun baru islam, menjelang hari raya Idul Fitri dan lain sebagainya.
“Masyakarat Julalen sudah lama melaksanakan tradisi ini. Kalau sejarahnya kita mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepada kita semuanya, dan juga kita tunjukkan doa-doa kita kepada orang-orang tua kita semuanya. Sehingga semoga dengan wasilah atau doa itu semua, segala kekeliruan orang tua kita baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia semoga Allah ampuni dan semoga amal Soleh amal baik beliau diterima oleh Allah SWT, dan semoga beliau yang telah mendirikan masjid ini sekaligus memberikan wejangan-wejangan yang baik dapat menjadi amal Soleh dan amal jariyah dan dikumpulkan dengan orang-orang Soleh di surga-Nya Allah SWT,” ujarnya.
Terakhir, Maftuhi berharap, tradisi yang baik itu dapat berlangsung hingga hari kiamat nanti.
“Mudah-mudahan ini dapat berlangsung sampai nanti akhir zaman,” tutur Maftuhi.
Diketahui, tradisi riungan tersebut adalah mengumpulkan semua makanan yang dibawa oleh masing-masing warga yang bisa disiapkan oleh mereka semampunya, kemudian setelah terkumpul, tokoh masyarakat atau tokoh agama, lantas mulai membaca doa-doa. (*/Hery)
