Hati-hati Suhu Ekstrem di Musim Haji 2026, Jemaah Diwanti-wanti Jaga Stamina
MCH – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 mengingatkan jemaah haji Indonesia untuk mewaspadai potensi suhu ekstrem di daratan Arab yang diperkirakan terjadi pada Mei hingga Juni 2026.
Gelombang panas pada periode tersebut diprediksi menjadi tantangan utama dalam pelaksanaan ibadah haji tahun ini.
Kepala Daerah Kerja (Daker) Madinah PPIH Arab Saudi 2026, DR Khalilurrahman, meminta jemaah mempersiapkan diri secara optimal, terutama dari sisi kesehatan dan kebugaran fisik.
DR Khalilurrahman menegaskan bahwa ibadah haji merupakan rangkaian ibadah yang menuntut kesiapan fisik prima.
Menurutnya, menjaga stamina menjadi kunci agar jemaah dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan lancar.
Persiapan tersebut mencakup peningkatan daya tahan tubuh serta konsumsi suplemen yang diperlukan selama berada di Tanah Suci.
Meski kondisi cuaca pada April relatif bersahabat, Khalilurrahman menilai puncak tantangan justru akan dirasakan pada bulan Mei dan Juni, saat suhu udara meningkat signifikan.
“Suhu bisa mencapai 45 hingga 47 derajat Celcius saat puncak kemarau. Jemaah harus menyiapkan fisik, rutin minum vitamin, dan tetap mempelajari buku manasik agar paham apa yang harus dilakukan saat ziarah ke Raudhah, Uhud, hingga prosesi puncak haji nanti,” ujarnya, saat ditemui di Kantor Daker Madinah, Senin (20/4/2026).
Meski jemaah diminta untuk mengantisipasi cuaca demi menjaga kesehatan, namun PPIH Arab Saudi juga menghadirkan terobosan dalam memberikan layanan kesehatan bagi jemaah.
Tahun ini, klinik kesehatan akan tersedia di setiap sektor pelayanan, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang terbatas pada pusat layanan utama.
Langkah tersebut merupakan hasil koordinasi dengan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi guna meningkatkan akses layanan medis bagi jemaah selama di Madinah.
“Ini kabar menggembirakan. Klinik kesehatan akan ada di tiap sektor untuk mempercepat penanganan medis. Kami juga bekerja sama dengan Saudi Germany Hospital untuk mendampingi proses pelayanan kesehatan jemaah kita,” tambah DR Khalilurrahman.
Di sektor konsumsi, Daker Madinah memastikan kebutuhan gizi jemaah tetap terjaga. Sebanyak 23 penyedia katering telah dikontrak untuk memenuhi kebutuhan makanan jemaah selama berada di Madinah.
Pengawasan dilakukan secara ketat oleh tim layanan konsumsi yang rutin memeriksa aspek kehalalan, kandungan gizi, hingga takaran makanan yang disajikan.
“Pengecekan dilakukan setiap hari, bukan hanya hari ini atau kemarin. Sebelum makanan dibagikan ke jemaah, tim akan memastikan kualitasnya layak dan sesuai standar kesehatan,” jelasnya.
Dalam operasionalnya, PPIH Madinah juga menggandeng dua perusahaan penyedia layanan besar, yakni Syarikah Duyuful Bait dan Syarikah Raken Masyariq, untuk mendukung kelancaran pelayanan jemaah.
Khalilurrahman mengapresiasi dedikasi para petugas layanan di Arab Saudi yang menjunjung tinggi prinsip pelayanan kepada jemaah haji sebagai sebuah kehormatan.
“Melayani jemaah haji adalah kemuliaan bagi kami. Semangat itulah yang tertanam, dan kami terus berkoordinasi intensif untuk meminimalisir problematika di lapangan,” tegasnya..
Di sisi lain, jemaah juga diimbau untuk mematuhi aturan terkait barang bawaan, khususnya saat proses penerbangan menuju Arab Saudi.
Bagi jemaah non-fast track, larangan membawa barang-barang tertentu seperti jimat, rokok dalam jumlah berlebih, serta cairan di dalam bagasi harus dipatuhi demi kelancaran pemeriksaan di bandara.
Persiapan penyambutan jemaah haji Indonesia di Madinah kini memasuki tahap akhir.
Seluruh layanan, mulai dari akomodasi hingga perlindungan jemaah, diklaim telah siap sepenuhnya.
Khalilurrahman menegaskan kesiapan tersebut mencakup seluruh aspek layanan yang akan diterima jemaah sejak kedatangan hingga masa transit di Madinah.
Tahun ini, Madinah kembali menjadi titik awal kedatangan jemaah kloter pertama yang akan menjalani masa tinggal selama delapan hingga sembilan hari sebelum melanjutkan perjalanan ke Makkah.
Salah satu aspek krusial yang mendapat perhatian adalah kesiapan penginapan. PPIH Madinah telah mengontrak sebanyak 118 hotel untuk menampung jemaah haji Indonesia.
“Kami sudah melakukan kontrol dan pemeriksaan ketat. Kami pastikan hotel-hotel tersebut sudah clear dari jemaah umrah sebelum jemaah haji kita tiba,” katanya.
Pihaknya juga terus melakukan koordinasi dengan pihak penyedia akomodasi penginapan untuk memastikan layanan bisa maksimal dan terjamin pada saat pelaksanaan ibadah haji nantinya.
“Komunikasi dengan pemilik dan penjaga hotel terus dilakukan agar saat jemaah masuk, fasilitas sudah siap huni,” pungkasnya. (*/ARAS)


