Kapos Terminal Syib Amir Sebut Bahasa Sopir Bus Shalawat Jadi Kendala Komunikasi Layanan
MAKKAH – Kepala Pos (Kapos) Terminal Syib Amir terus berusaha memaksimalkan layanan antar jemput dengan Bus Shalawat dari Masjidil Haram ke hotel, usai para jemaah melaksanakan ibadah.
Bahkan Kapos, AKP Dr Iswan Brandes, mengungkapkan kondisi Terminal Syib Amir pada malam hari mulai dipadati oleh para jemaah yang selalu bersemangat untuk bolak-balik ibadah ke Masjidil Haram.
Guna mengatasi kepadatan yang membuat layanan terganggu, Bus Shalawat di Terminal Syib Amir diterapkan sistem shuttle.
Sistem ini membagi bus untuk melayani dua kebutuhan sekaligus, yakni memulangkan jemaah dari Masjidil Haram usai Shalat Isya dan mengantar jemaah yang hendak umrah malam.
“Contohnya di rute 6 ada 8 unit, jadi 3 yang kita standby-kan di hotel, yang lainnya kita standby-kan di sini, tetapi ada 2 atau 3 yang berputar. Kita gantian, supaya tidak ada kekosongan di 2 sisi, yang di terminal atau di hotel,” jelas Brandes kepada MCH, Senin (4/5/2026).
Untuk layanan operasional Bus Shalawat sendiri non stop 24 jam. Namun begitu, diakuinya masih ada kendala dalam pelayanan pengantaran para jemaah haji, salah satunya kendala bahasa dari sopir.
Mayoritas sopir bus berasal dari warga negara Mesir, Turki, hingga India.
“Yang dari India itu tidak paham bahasa Indonesia, tidak paham bahasa Arab. Bahkan lebih dominan ke bahasa Urdu,” ungkapnya.
Untuk itu, pengawas lapangan dimaksimalkan mengarahkan perputaran bus setiap jamnya.
Brandes juga mengingatkan operasional bus wajib berhenti 30 menit sebelum waktu adzan shalat fardu, sesuai aturan otoritas Arab Saudi.
Diakui juga, layanan Bus Shalawat pada Rute 5, 6, 7 disebut lebih rawan terlambat karena melewati sejumlah traffic light.
Meski layanan bus tersedia 24 jam, namun AKP Brandes mengimbau agar jemaah tetap mengatur waktu istirahatnya demi menjaga kesehatan.
Mengurangi kegiatan shalat wajib di Masjidil Haram, bisa menjadi salah satu pilihan jemaah untuk menghemat tenaga.
Kesehatan dan tenaga jemaah perlu dipersiapkan lebih prima, jelang menghadapi momen Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
“Lebih kami arahkan Bapak dan Ibu Haji itu untuk shalatnya di hotel, sekalian menjaga kesehatan dan juga tenaga untuk puncak haji,” Ucap Brandes. (*/Red/MCH-2026)


