Sebut Larung Kerbau ke Laut Perbuatan Syirik, Ulama Banten Ajak Doakan Korban Sesuai Ajaran Rosulullah SAW
SERANG– Di tengah upaya pencarian 8 korban yang terdiri dari 5 wartawan dan 3 ABK yang belum ditemukan di perairan Selat Sunda, sekelompok warga di Carita melakukan ritual larung kerbau ke laut, Senin (14/9/2026).
Tradisi tersebut mendapat respons dan tanggapan dari organisasi keagamaan Islam.
Ketua Pimpinan Wilayah Persatuan Islam (PW PERSIS) Provinsi Banten, Haji Aspuri menilai ritual larung kerbau ke laut sebagai perbuatan yang mengarah pada kemusyrikan dan tidak sesuai dengan ajaran Islam.
“Larung kerbau ke laut adalah perilaku kemusyrikan, sementara do’a adalah ajaran sunnah, maka antara hak dan bathil tidak bisa dicampuradukkan,” ujar Haji Aspuri kepada Fakta Banten, Selasa (15/9/2026).
Menurut Haji Aspuri, dalam pandangan Islam, melarung sesajen atau hewan ke laut dengan niat meminta keselamatan, menolak bala, atau meminta izin kepada penunggu laut adalah bentuk penyekutuan kepada Allah SWT.
Praktik tersebut, kata dia, memalingkan tauhid dari Allah kepada makhluk gaib yang diyakini menjaga laut.
Padahal Islam mengajarkan bahwa pertolongan, keselamatan, dan penolakan musibah hanya datang dari Allah SWT.
Haji Aspuri menjelaskan, ikhtiar dalam Islam adalah melakukan usaha maksimal secara lahiriyah melalui operasi SAR gabungan, dan secara batiniah dengan do’a, istighfar, dan sedekah sesuai syariat.
Ketua PW Persis Banten ini juga menyampaikan empati mendalam kepada keluarga korban yang hingga hari ke tujuh operasi pencarian masih menunggu dengan cemas di Posko SAR Gabungan di Kawasan Pantai Carita.
Persis mengajak seluruh masyarakat Banten untuk mendoakan para korban agar segera ditemukan.
“Sebaiknya kita berdoa sesuai ajaran Allah dan Rasul, semoga 5 wartawan dan tiga orang ABK bisa ditemukan dalam keadaan selamat,” ujarnya.
Ia mengutip anjuran untuk memperbanyak do’a ketika dalam kesulitan, sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, bukan dengan ritual adat yang bertentangan dengan syariat.
Haji Aspuri juga menegaskan pihaknya sangat menghormati dan mendukung penuh kerja keras Basarnas, TNI-Polri, BPBD, dan seluruh relawan yang terlibat dalam operasi kemanusiaan ini.
Menurutnya, dukungan terbaik yang bisa diberikan masyarakat saat ini adalah do’a yang tulus dan tidak mengganggu jalannya operasi dengan kegiatan-kegiatan yang tidak relevan.
Ia berharap Pemprov dan aparat tidak memfasilitasi ritual larung tersebut demi menjaga kemurnian akidah masyarakat Banten yang dikenal religius.
Operasi SAR gabungan pencarian korban kapal hingga hari ini Selasa (15/9/2029) masih terus dilanjutkan dengan mengerahkan sejumlah alat utama dan penyelam, setelah beberapa material yang ditemukan sebelumnya dinyatakan bukan bagian dari kapal korban yang dicari. (*/Ajo)


