Larung Kerbau di Selat Sunda untuk Pencarian Rombongan Wartawan, Ulama Banten: Itu Sisa Animisme, Bisa Hanguskan Amal
SERANG – Polemik ritual larung hewan kerbau atau pemberian sesajen ke laut di tengah pencarian 8 korban yang masih hilang di perairan Selat Sunda, mendapat sorotan dari Ulama Persatuan Islam (PERSIS) Banten, Ustadz Rahmat Jaelani.
Ustadz Rahmat menjelaskan secara detail duduk perkara akidah di balik tradisi larung laut yang menurutnya masih hidup di masyarakat pesisir.
Kata dia, larung laut dalam bahasa Sunda disebut seba atau parepeh.
Secara istilah, larung adalah kepercayaan adanya penguasa laut yang bisa mendatangkan mudarat dan manfaat.
Ustadz menjelaskan, kebiasaan ini percaya bahwa ada penguasa laut bisa membuat madarat dan manfaat.
Kemudian supaya tidak membahayakan, maka kepercayaannya dengan cara menyembelih hewan, kalau yang kecil kambing, domba, kalau yang besar kerbau.
Ia mencontohkan, di perairan Sukabumi penguasa laut diyakini sebagai Nyi Roro Kidul. Sementara di Selat Sunda, masyarakat juga meyakini ada penguasa lautnya sendiri.
“Dengan kepercayaan bahwa ketika dilemparkan itu kepala kerbau ke laut, atau kepala kambing, itu bisa menyelamatkan orang-orang, baik itu nelayan ataupun yang lainnya,” jelas Ustadz Rahmat saat dihubungi, Selasa (15/9/2026).
Ustadz Rahmat menegaskan, kepercayaan tersebut adalah sisa-sisa animisme dan dinamisme dalam kepercayaan rakyat Indonesia masa sebelum Islam masuk.
Animisme, kata dia, kepercayaan kepada roh.
Roh-roh yang sudah meninggal dunia, lanjutnya, itu masih mempunyai energi, kekuatan mistis.
Yang kedua ada kepercayaan kepada penguasa laut atau penguasa daratan, termasuk penguasa pohon yang gede.
“Kalau dinamisme kan kepercayaan kepada benda-benda dinamis, bahwa benda itu punya kekuatan,” jelasnya.
Untuk percaya pada Nyi Roro Kidul, Ustadz Rahmat menilai bahwa hal itu merupakan mistis, klenik.
Terlebih yang dilakukan oleh Warga Carita, Kabupaten Pandeglang, melarung kerbau agar rombongan tersebut bisa selamat dengan dalih meminta petunjuk kepada para karuhun di laut.
“Mana kekuatannya Nyi Roro Kidul? Yang begitu dalam akidah itu kan takhayul,” kata dia.
Padahal, penguasa laut dalam aqidah Islam bukanlah Nyi Roro Kidul, karuhun ataupun yang lainnya.
Penguasa laut yang sesungguhnya, kata Ustadz Rahmat, adalah Allah SWT.
Berkaitan dengan ini, Ustaz Rahmat juga menyinggung bacaan Al-Fatihah yang dibaca umat Islam 17 kali sehari bagi yang rajin salat, ayat tersebut menyiratkan bahwa hanya kepada Allah kita menyembah dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.
“Makanya dianjurkan semua orang itu ngaji, taklim. Ngaji akidah atau tauhid, ngaji akhlak, ngaji siasah. Jangan sampai kita ini terlalu banyak memikirkan dunia, akhirat lupa. Yang menyelamatkan kita adalah akidah kita,” pesannya.
Lebih jauh, Ustadz Rahmat menjelaskan dalil keharaman sembelihan untuk larung laut.
Ia merujuk pada Al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 3.
Bahwa sembelihan-sembelihan yang diperuntukkan bukan karena Allah, seperti larung laut, disembelih tapi bukan kurban, bukan akikah, bukan untuk dijual, atau disembelih tapi tidak mengucapkan bismillah, tidak mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, atau bismillahi allahu akbar.
“Jadi nama Allah nggak disebut, sembelihan itu termasuk haram dimakan,” jelasnya.
Ia menegaskan, ini bukan pendapat pribadi atau organisasi.
“Itu bukan pendapat Persis, pendapat Al-Qur’an. Kalau disebut pendapat, jadi Persis nggak punya pendapat, pendapat mah ijtihad baru. Nah ini mah dalil Al-Qur’an.” ujarnya.
Dalam ayat tersebut, Allah SWT mengharamkan 4 hal, yakni bangkai, darah yang mengalir, babi baik kulit, daging dan lemaknya, dan yang disembelih bukan karena Allah.
“Kalau dilarungkan bukan karena Allah kan? Coba, siapa yang makan di situ? Apa tahu Nyi Roro Kidul suka makan kepala kerbau? Dari mana tahu? Atau di situ ada penguasa Gunung Anak Krakatau, emang Anak Gunung Krakatau suka daging kerbau? Kan nggak. Jadi rasional lah kita di alam modern ini rasional, tapi harus tekstual. Apa tekstualnya? Al-Qur’an dan Sunnah,” tegasnya.
Di akhir pesannya, Ustadz Rahmat mengingatkan bahaya syirik yang dapat menghapus seluruh amal saleh.
“Kalau syirik berarti amal kita hangus. La in asyrokta layahbathonna ‘amaluka. Kalau kalian syirik menyekutukan Allah, maka seluruh amal saleh kamu menjadi hangus, nggak tersisa, jadi debu. Na’udzubillahi min dzalik,” ujarnya.
Ia berharap masyarakat Banten kembali kepada cara yang syar’i dalam berikhtiar, yakni dengan doa dan tawakal kepada Allah SWT, serta mendukung penuh kerja Tim SAR gabungan. (*/Ajo)


