*) Oleh: Mokhlas Pidono
FAKTA BANTEN – Sejak delapan bulan yang lalu, kontestasi paling sibuk sepanjang sejarah demokrasi Bangsa Indonesia dimulai genderangnya. Sejak saat itu pula, hiruk pikuk dan kegaduhan para peserta kontestasi pemilu baik pemilihan legislatif maupun presiden mulai terasa bising di telinga. Semakin mendekati pelaksanaan, semakin hingar bingar terasa, bukan hanya hal positif, hal-hal negatif bertebaran di mana-mana, di dunia nyata, apalagi dunia maya.
Pemilihan umum yang dilaksanakan serentak antara legislatif, presiden dan anggota DPD, membuat suasana semakin panas dan gerah. Bagaimana tidak, satu perhelatan pemilihan kepala daerah saja, bisa membuat udara bak di sauna. Apalagi 5 pemilihan sekaligus, mulai dari pemilihan anggota DPRD Kota/Kab, DPRD Provinsi, DPR RI, DPD RI dan Presiden RI membuat sesak masyarakat dengan berbagai macam kehebohan pesta demokrasi paling demokratis dengan 16 partai politik serta dua pasang calon presiden yang mengulang duel tahun 2014 yang lalu. Entah siapa yang mencetuskan ide pemilihan legislatif dan presiden digelar bersamaan faktanya di lapangan, masyarakat kebingungan dan korban berjatuhan. Siapa yang bertanggungjawab atas keputusan ini, tak ada yang mau mengakui, yang harus diakui adalah jangan sekali-kali lagi membuat pesta demokrasi semacam ini.
FITNAH, HOAX, HUJATAN MERAJALELA
Pemilu serentak pada tahun 2019 ini, rasanya pemilu paling menyayat hati. Membuat kepala bergeleng dan mulut berdecak, bukan akibat kagum, melainkan bingung dengan kondisi bangsa yang makin tak memanusiakan manusia. Bagi anda yang aktif di dunia maya, tentu akan sangat terasa pusingnya. Disimak tak banyak guna, tak disimak terlihat dan terbaca, pernahkah kita membayangkan yang membaca postingan di dunia maya, di media sosial kita adalah anak di bawah umur yang belum matang dan dewasa baik secara mental dan usia?
Fitnah bertebaran di semua kalangan, berita-berita bohong dan setingan bergentanyangan dengan judul-judul yang menyeramkan dan menyedihkan, saling menghujat antar kubu pendukung fanatik tak terelakan. Mulai bahasa kebun binatang sampai bahasa tempat rehibilasi kejiwaan berseliweran tak karuan, demi sang jungjunan, sang pujaan, fanatisme berlebihan yang akibatnya moral dan etika dihilangkan bahkan bukan cuma di media sosial, namun di group para cendekiawan dan intelektual dipenuhi dengan saling menjelekan dan membuka aib orang, entah apa maksud dan tujuan, apakah ingin berbagi pengetahuan atau memang sengaja ingin menjatuhkan seseorang yang secara nurani, tidak ia sukai.
Belu lagi masalah lingkungan, jalan ditumbuhi pohon spanduk, baliho, poster, T-banner, billboard bambu dan alat peraga kampanye perusak alam, dipaku di pohon, ditambatkan ditiang listrik dan telfon, sungguh kerusakan lebih terlihat ketimbang kebaikan yang didapatkan.

SELAMAT TINGGAL PEMILU, RAMADHAN DI DEPAN MATA
Saat ini, pemilu sudah selesai bukan? Namun masih saja saling serang, masih saja saling caci, masih terus saling menjelekan, kalau sudah begini, ini namanya bukan karena momen melainkan mencerminkan karakter yang bersangkutan. Pemilu yang sudah selesai, tinggal menunggu siapa pemenangnya, siapa duduk di DPRD Kota/Kab, siapa yang akan mengetuk Perda di kursi legislatif DPRD Provinsi, siapa yang akan mewakili daerah di DPD RI, siapa yang akan bolak-balik berkantor di Senayan pada kursi empuk DPR RI, dan siapa yang akan memimpin negeri ini 5 tahun kedepan hanya tinggal menunggu selesai penghitungan dan keputusan.
Lantas, kok masih saling menjelekan, serang menyerang, saling menghina dan pastinya memperbanyak permusuhan dibanding persaudaraan.
Sudahi saja semua perdebatan, kata hujatan, cacian dan makian, buka membuka aib, bunuh mebunuh karakter, jagoan tinggal tunggu pengumuman, panutan kalian tinggal menunggu keputusan dan pelantikan. Ada hal penting yang nyaris tak ada suara kegembiraan, ramadan sudah akan kita jelang, rajanya bulan akan segera datang, bulan suci sebentar lagi akan kita jalani dan mungkin saja amal menjunjung calon panutan dan ada apa-apanya ketimbang satu amalan ibadah di Ramadhan.
Mestinya, kegembiraan menyambut bulan suci ini yang kita tonjolkan, kita beragama Islam bukan? Jika iya, berhenti saling mencaci, stop saling menghujat, hentikan kebencian dan hoax berkepanjangan dan tak karuan. Meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amalan, melipatgandakan kepedulian, kedermawanan dan kebaikan jadikan sebagai haluan. Berbagi dengan sesama dibuat berlipat ganda, sedekah dan berderma menjadi hobi utama, ibadah dan dakwah menjadi nyawa, amalan kecil kita tigkatkan, apalagi amalan besarnya.
Masihkah kita akan terus memupuk cacian, makian, hujatan, bullyan, saling menjelekan dan menebar berita hoax tak berprikemanusiaan. Sudah cukup banyak korban, mari hentikan dengan akan menyapanya ramadan. Kita tak tahu, masuk surga dari amalan yang mana, yang jelas masuk surga bukan dari keburukan yang kita tebarkan, kebencian yang kita tanamkan, caci maki yang kita jalani. Ini saat yang tepat, bulan yang nikmat dan amal akan berlipat. Mari bersama kita ucapkan, selamat tinggal pemilu, selamat datang ramadhan, bergembiralah… (***)



