CILEGON – PT Krakatau Bandar Samudera (KBS) pada 30 Juni 2026, telah secara resmi menggabungkan anak usahanya PT Krakatau Jasa Logistik (KJL) bersama enam perusahaan BUMN Logistik lainnya yakni Multi Terminal Indonesia (MTI), Prima Indonesia Logistik, Pos Logistik Indonesia, Sarana Bandar Logistik, KBN Prima Logistik, dan Varia Usaha Dharma Segara.
Penandatanganan Shareholders Agreement dan Akta Penggabungan menandai meleburnya ketujuh perusahaan menjadi satu entitas bisnis, dengan PT MTI sebagai surviving entity atau entitas yang tetap berdiri secara hukum.
Asisten Direktur Commercial and Business Development PT KBS, Hanif Wijaya, mengungkap transaksi afiliasi PT KJL tersebut sebesar Rp233.488.400.800,-.
Dalam merger tersebut, PT KBS tidak menerima pembayaran tunai atas pelepasan PT KJL.
Nilai tersebut kemudian dikompensasikan menjadi kepemilikan sekitar 9 persen saham PT KBS di perusahaan hasil merger PT MTI.
Hanif Wijaya mengatakan, merger anak usahanya itu bagian dari mandat Otoritas Pemerintah dalam pembentukan PT Danantara Aset Management (DAM).
Pemerintah dan Danantara dalam program prioritas strategis dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) Tahun 2026 menetapkan integrasi perusahaan logistik sebagai salah satunya.
Hanif Wijaya berharap merger tersebut mampu menciptakan nilai tambah. PT KBS tetap optimistis penggabungan PT KJL ke dalam PT MTI dapat memperluas pasar dan meningkatkan kinerja bisnis perusahaan ke depan.
Hal ini bisa menjadi kesempatan untuk PT KS dalam mengembangkan market dengan kerjasama serta pelayanan kepada grup MTI dan Pelindo.
“Jadi latar belakangnya memberikan nilai tambah, terus kemudian scope bisnisnya akan menjadi lebih luas,” ungkap Hanif, Rabu (29/7/2026).
Kini setelah merger tersebut, PT KJL secara hukum tidak lagi berdiri sebagai entitas terpisah. Seluruh kegiatan usaha dan aset PT KJL sebelumnya kemudian berada di bawah pengelolaan PT MTI.
Sementara itu, Pelindo Sinergi Lokaseva menjadi pemegang saham mayoritas di PT MTI dengan kepemilikan yang diperkirakan berada di kisaran 73 hingga 74 persen.
Sebelum merger, Hanif menyebut PT KJL mampu mencatatkan pendapatan atau revenue sekitar Rp600 miliar hingga Rp650 miliar per tahun.
Setelah penggabungan KJL ke dalam PT MTI, PT KBS berharap nilai bisnis dan pendapatan dari kepemilikan saham tersebut dapat meningkat secara signifikan.
Hanif bahkan optimistis penguatan sinergi dapat mendorong pertumbuhan revenue hingga dua kali lipat
Menurut Hanif, penggabungan tujuh entitas tersebut akan membuat struktur perusahaan menjadi lebih ramping dan efisien.
Penyederhanaan struktur manajemen diharapkan dapat meningkatkan daya saing, memperluas pangsa pasar, serta memperkuat layanan kepada pengguna jasa.
“Berarti sekarang lebih streamlined. Kemudian output-nya apa, yang pertama adalah competitiveness,” jelasnya.
Ia memastikan proses merger tidak akan mengganggu hubungan bisnis maupun operasional yang selama ini telah berjalan di PT KBS yang sebelumnya dikelola PT KJL. Berbagai kontrak yang telah disepakati sebelumnya tetap dilanjutkan.
“Intinya penggabungan ini tidak mempengaruhi bisnis, tidak mempengaruhi operasional, tidak mempengaruhi apa-apa. Bahkan ini harus sinergi,” tegasnya.
Hanif juga menepis kekhawatiran bahwa bisnis PT KJL akan dialihkan kepada entitas lain.
Menurutnya, seluruh kerjasama yang sudah berjalan tetap dilaksanakan dan akan disinergikan dengan struktur baru di bawah PT MTI.
“Yang kontrak sudah kontrak katakanlah sudah jalan, tetap berjalan. Disinergikan lah,” katanya.
Dari sisi sumber daya manusia, PT KBS juga telah melakukan sosialisasi kepada para pekerja mengenai proses merger. Hanif menyebut perubahan tersebut tidak berdampak terhadap karyawan maupun regulasi yang berlaku.
Hanif yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Utama PT KJL kini kembali bertugas di PT KBS sebagai Asisten Direktur Commercial and Business Development.
PT KJL secara resmi tidak lagi menjadi entitas hukum tersendiri setelah akta penggabungan ditandatangani pada 1 Juli 2026.
Seluruh aset dan komponen dalam laporan keuangan KJL turut beralih ke MTI sebagai entitas yang bertahan dalam proses merger.
“Semua beralih. Kalau digabung tuh semuanya, Pak. Yang di dalam laporan keuangan tuh beralih semua,” ujarnya.
Hanif berharap merger tersebut dapat mendorong PT MTI berkembang menjadi perusahaan logistik dengan cakupan pasar yang lebih luas.
Dengan posisi PT KBS sebagai pemegang saham minoritas, pertumbuhan PT MTI diharapkan turut memberikan dampak positif terhadap nilai investasi dan pendapatan PT KBS ke depan.
“Harapannya ini MTI ini makin berkembang. Dan support operasional, support komersial, gak ada masalah sama sekali,” pungkasnya.
Diyakini cakupan pasar PT MTI akan semakin luas karena dapat menjangkau jaringan bisnis logistik secara nasional.
Sinergi antarpelaku usaha juga dinilai dapat meningkatkan fleksibilitas pelayanan kepada pelanggan. (*/ARAS)