LEBAK– Musim kemarau yang melanda Kabupaten Lebak sejak beberapa pekan terakhir menyebabkan debit air Waduk Karian mengalami penurunan.
Kondisi tersebut memunculkan kembali sejumlah bangunan dan puing-puing bekas permukiman warga yang selama ini berada di dasar genangan waduk.
Fenomena itu terlihat di kawasan eks Kampung Somang, Desa Sukarame, Kecamatan Sajira.
Bangunan-bangunan yang sebelumnya tertutup air kini mulai tampak, mulai dari sisa rumah warga hingga bangunan masjid yang dahulu menjadi pusat aktivitas masyarakat sebelum kawasan tersebut direlokasi untuk pembangunan Waduk Karian.
Pemandangan tersebut menjadi perhatian warga sekitar maupun pengunjung yang datang ke lokasi.
Selain menjadi fenomena alam yang menarik, kemunculan kembali bekas permukiman itu juga mengingatkan masyarakat pada kampung yang pernah menjadi tempat tinggal mereka sebelum tergenang.
Salah seorang warga sekitar, Kholil, mengatakan penyusutan debit air memang hampir selalu terjadi saat musim kemarau.
Namun, menurutnya, kondisi tahun ini membuat bekas permukiman terlihat jauh lebih jelas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau air dalam kondisi normal, biasanya yang terlihat hanya bagian atas kubah masjid. Sekarang hampir seluruh bangunan bekas kampung sudah mulai terlihat karena airnya benar-benar surut,” kata Kholil, Minggu (1/8/2026).
Ia menjelaskan, setiap kali permukaan air turun, banyak warga datang untuk melihat kembali lokasi yang dahulu menjadi kampung halaman mereka. Tidak sedikit yang mengabadikan momen tersebut sebagai kenangan.
Menurut Kholil, masyarakat mulai meninggalkan Kampung Somang secara bertahap sejak 2022 seiring pelaksanaan proyek pembangunan Waduk Karian.
Sebagian besar warga kemudian menempati kawasan relokasi yang telah disiapkan pemerintah, sementara sebagian lainnya memilih menetap di daerah lain.
“Sebagian besar pindah ke lokasi relokasi, tetapi ada juga yang membeli rumah di tempat lain. Meski sudah lama pindah, setiap kali bekas kampung ini muncul, kenangan lama seperti kembali hadir,” ujarnya.
Waduk Karian merupakan salah satu infrastruktur strategis nasional yang dibangun untuk mendukung penyediaan air baku, irigasi pertanian, pengendalian banjir, hingga penyediaan air bagi sejumlah wilayah di Provinsi Banten.
Di balik manfaat besar tersebut, keberadaan waduk juga menyimpan sejarah sosial masyarakat yang harus merelakan kampung halamannya tergenang demi kepentingan pembangunan.
Karena itu, setiap kali air waduk surut dan bekas permukiman kembali terlihat, banyak warga menganggapnya sebagai pengingat perjalanan panjang yang pernah mereka lalui.
Kholil berharap musim kemarau tidak berlangsung terlalu lama agar volume air Waduk Karian kembali normal sehingga fungsi waduk sebagai penopang kebutuhan air masyarakat tetap berjalan optimal.
“Kalau untuk melihat bekas kampung memang menjadi pemandangan yang unik, tetapi kami tentu berharap debit air segera kembali normal karena waduk ini sangat penting bagi masyarakat,” tuturnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari instansi pengelola Waduk Karian mengenai data terbaru penurunan elevasi muka air maupun dampaknya terhadap operasional waduk selama musim kemarau tahun ini. (*/Sahrul).