Duyung-duyung di Ujung Kulon

PANDEGLANG – Duyung atau dugong (Dugong dugon) adalah salah satu mamalia atau hewan menyusui yang hidup diperairan. Satwa yang masih berkerabat dengan gajah ini merupakan salah satu anggota Sirenia atau lembu laut yang masih bertahan hidup selain manatee dan mampu mencapai usia 22 sampai 25 tahun.

Herbivor ini hidup diperairan tenang dan dekat dengan mangrove, sebaran mamalia ini hampir bisa ditemukan di kawasan perairan sekurang-kurangnya di 37 negara di wilayah Indo-Pasifik.

Ujung Kulon memliki perairan dengan padang lamun di wilayah utara dan kondisi fisik yang ideal untuk mendukung hidup mamalia laut ini. Meski belum ada pembuktian, beberapa nelayan mengaku pernah berinteraksi dengan mahluk ini.

“Kami pernah melihat ikan duyung berenang di sekitar perahu kami, waktu kami nyari ikan di kulon,” ujar Rasad nelayan asal Carita kepada fakta banten.

Bahkan beberapa waktu lalu satu individu duyung pernah ditemukan tewas di jaring nelayan di Ujung Kulon.

Keberadaan dugong di perairan Ujung Kulon tidak disangkal oleh pihak Balai Taman Nasional Ujung Kulon (BTNUK)

Menurut kepala BTNUK U Mamat Rahmat eksistensi habitat dugong di wilayahnya didukung dengan banyaknya padang lamun yang terjaga dengan kondisi lingkungan yang masih baik.

“Kita punya padang lamun yang luas di pantai utara dan sekitar pulau handeuleum, di sini sangat ideal untuk hidup dugong atau duyung, dan kata nelayan juga ada yang pernah lihat,” jelas Mamat.

Keberadaan dugong bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan dan penghobi olah raga diving.

Namun habitat dugong di TNUK juga beririsan dengan habitat buaya muara yang banyak hidup di sekitar perairan sekitar hutan mangrove di Ujung Kulon. (*/Angga)

Demokrat
Royal Juli