Baru Dibentuk, Krakatau Sarana Infrastruktur Dipersiapkan Segera Lepas Saham ke Publik

JAKARTA – Emiten BUMN produsen baja, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. akan meneruskan aksi penawaran umum perdana alias initial public offering (IPO) anak usahanya setelah mendapat persetujuan transformasi dan penataan portofolio bisnis dari pemegang saham.

Agenda ke-10 Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) emiten berkode KRAS ini membahas persetujuan pelaksanaan inisiatif strategis dalam rangka transformasi dan penataan portofolio bisnis perseroan dan anak perusahaan perseroan.

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim menerangkan rencana memasukkan anak usahanya dalam pasar modal masih on track setelah adanya persetujuan penataan portofolio bisnis anak usahanya.

“Iya [rencana IPO lanjut] seperti yang sudah diungkapkan sebelumnya, IPO PT Krakatau Sarana Infrastruktur (KSI) dilaksanakan pada kuartal I/2022,” ungkapnya saat dihubungi Bisnis selepas RUPST 2020, Kamis (29/7/2021).

Dia tengah berusaha terus menjaga tren positif Krakatau Steel melalui peningkatan penjualan ekspor, pengembangan bisnis melalui pembentukan Subholding Krakatau Sarana Infrastruktur, Subholding Bisnis Baja, maupun pengembangan program hilirisasi dan pengembangan digitalisasi,” jelasnya.

KRAS pun siap membawa Subholding Sarana Infrastruktur atau KSI , untuk menggelar penawaran umum saham perdana atau IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Subholding yang baru secara resmi terbentuk pada 13 Juli 2021 itu terdiri dari PT Krakatau Industrial Estate Cilegon, PT Krakatau Daya Listrik, PT Krakatau Tirta Industri, dan PT Krakatau Bandar Samudera.

Adapun saat ini, emiten BUMN tersebut masih dalam proses pencarian investor strategis untuk KSI. Tahap ini akan segera dituntaskan pada kuartal III/2021. KRAS mencatat setidaknya terdapat empat investor strategis telah masuk pada tahap non-binding offer untuk mengakuisisi sebagian saham subholding PT KSI.

Target saham yang dilepas bisa mencapai 40 persen. Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan, sejauh ini investor yang beminat mengambil sebagian saham KSI adalah Indonesia Investment Authority (INA), PT Danareksa (Persero), PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF), dan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA).

“Yang menyampaikan minat awalnya sekitar 10, sementara yang memasukkan non-binding offer ada 4 perusahaan, step berikutnya adalah due dillegence, kemudian final offer pada Agustus,” kata Silmy.

Dia mengatakan peminat saham KSI juga ada yang berasal dari sektor swasta. Mengenai detail perusahaan ini, Silmy enggan menjawab lantaran pihak yang bersangkutan minta supaya tak diungkap ke publik.

Silmy menambahkan, saham KSI yang akan dilepas perseroan sekitar 10 persen-40 persen. Namun, emiten berkode saham KRAS ini belum mau mengungkap target dana yang diraih dari hasil divestasi ini. Silmy sebelumnya mengatakan subholding ini memiliki pondasi yang kuat secara finansial.

Empat perusahaan di bawah KSI mencatat total pendapatan Rp3,4 triliun dan EBITDA sebesar Rp 1 triliun pada tahun 2020 KSI diproyeksikan dapat menghasilkan pendapatan hingga Rp7,8 triliun dalam lima tahun mendatang. Sementara itu, EBITDA subholding KRAS tersebut diproyeksikan meningkat mencapai Rp 2,2 triliun pada 2025. (*/Bisnis)

Demokrat
Royal Juli