Tak Ada Peringatan Hari Pahlawan di Cilegon, Mahasiswa Sebut Pemerintah Tutupi Sejarah

CILEGON – Menyikapi momentum penting kali ini yakni Hari Pahlawan, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Cilegon menginginkan Pemerintah Daerah Kota Cilegon agar tidak melupakan sejarah dan jasa-jasa para pahlawan asal Cilegon.
Ketua DPC GMNI Kota Cilegon Syaihul Ihsan menyampaikan, ada tiga nama tokoh pejuang asal Banten yang sudah ditetapkan menjadi pahlawan nasional yakni Sultan Ageng Tirtayasa, Syafrudin Prawiranegara, dan di Kota Cilegon ada Brigjend KH Syam’un. Mereka adalah tokoh agama, pendidikan dan militer, yang pada zamannya memilki peran penting dalam perubahan Sumber Daya Manusia di bumi Indonesia.
GMNI menilai Pemerintah Kota Cilegon selama ini tidak pernah menggelar peringatan khusus terkait momentum sejarah, dan juga tidak ada penghargaan yang layak yang diberikan kepada pahlawan asal Banten.
“Secara resmi Presiden Joko Widodo membacakan gelar pahlawan untuk KH Syam’un melalui surat Keputusan Presiden Nomor 123/TK tahun 2018 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional, ini seharusnya disambut genggap gempita dan terus dijadikan momentum oleh Pemkot Cilegon untuk menghidupkan api sejarah dan mensosialisasikan nilai-nilai perjuangan tokoh pahlawan ini, jangan sampai kebanggaan masyarakat Cilegon dan Banten ini malah seakan dilupakan,” ujar Syaihul kepada wartawan, Rabu (11/11/2020).
Selayaknya Pemerintah Kota Cilegon setiap tahunnya menggelar peringatan untuk menghargai jasa-jasa pahlawan, dan juga menjadi momentum menghidupkan kembali sejarah agar dikenang masyarakat.
“Sebagai warga Cilegon, di momentum hari pahlawan ini saya ingatkan kepada pemerintah daerah jangan melupakan sejarah, kami turut bangga dengan perjuangan heroiknya Brigjend KH Syam’un sebagai tokoh yang berani melawan dan menentang kolonialisme pada masanya,” tegas Syaihul.
Mengingat sejarahnya, dari gerakan pesantren dan madrasah, KH Syam’un bertransformasi menjadi tokoh militer dan ikut andil dalam sejarah kemerdekaan Indonesia khususnya di Banten. Status sosialnya sebagai ulama di Banten menjadikan KH Syam’un diangkat menjadi komandan batalyon.
“Inilah ciri khas orang Banten Cilegon yang hari ini tergerus, santri dan perjuangan adalah bagian dari sejarah yang tak terpisahkan dengan kondisi sosiologi di Cilegon, momentum hari pahlawan ini seharusnya merefleksikan Kota Cilegon hari ini bagaimana kondisinya relevan atau tidak dengan sejarah dulu,” imbuhnya.
Syaihul juga mengajak seluruh pemuda mahasiswa untuk mengambil api sejarah dari para pahlawan, bukan mengambil abunya, nenek moyang kita kata Syaihul, bukan pecundang, hari ini Kota Cilegon sebagai kota industri jangan menjadi penonton di wilayahnya sendiri.
GMNI mendorong Pemkot Cilegon untuk menggelorakan corak perjuangan Pahlawan Nasional asal Cilegon dan Banten ini.

“Hari ini Cilegon sebagai kota industri suka tidak suka kita kembali dijajah secara ekonomi, Pemkot Cilegon perlu ada penanaman historis ke anak muda Cilegon, jika tidak ada, kita akan kehilangan jati diri sebagai bangsa,” imbuhnya.
Dia berharap, Pemerintah Daerah juga serius dalam hal penguatan karakter pemuda, penguatan pemahaman Ideologi Pancasila sebagai antitesis harus ditanamkan karena arus penetrasi globalisasi terus disalurkan kepada pemudanya, mari kita kuatkan karaktar bangsa dan jangan sekali-kali melupakan sejarah.
“Kita belajar dari kakek Brigjend KH Syam’un yakni Ki Wasyid melalui Peristiwa Geger Cilegon 1888 bahwa petani saja mampu melawan dengan senjata konvensionalnya, akan tetapi era Nekolim hari ini kita harus melawan secara ekonomi, budaya serta penguatan pemahaman teknologi informasi, dengan persatuan dan kesatuan dengan kekuatan karakter bangsa dan jangan sekali-kali melupakan sejarah,” pungkasnya.
Hal senada dikatakan Hery Yuanda, Ketua Umum Pelajar Islam Indonesia (PII) Kota Cilegon. Dia menilai selama ini baik pendidikan di sekolah maupun di masyarakat, tidak ada upaya serius Pemkot Cilegon untuk memberikan dan menghidupkan pemahaman sejarah tentang kearifan lokal Cilegon dan Banten.
Dikatakan Hery, setidaknya ada tiga momen sejarah penting bagi masyarakat Kota Cilegon, dimana jika hal ini dihidupkan kembali akan membawa nilai nilai luhur kepahlawanan dan semangat perjuangan dalam mengisi pembangunan kedepan.
“Sangat penting masyarakat dan generasi muda kita itu mengenal dan menghidupkan kembali api sejarah seperti Geger Cilegon, sejarah Al-Khairiyah, dan juga yang tidak kalah penting sejarah peran ulama dalam menyambut berdirinya Krakatau Steel,” ungkap Hery.
Hery juga menegaskan bahwa fondasi pembangunan Kota Cilegon saat ini bukan hanya karena jasa walikota atau wakil walikota terdahulu, terlebih dua walikota Cilegon sebelumnya adalah terpidana korupsi.
“Kami heran jika ada yang menyebut walikota Cilegon sebelumnya adalah pahlawan untuk pembangunan Cilegon. Ini harus diluruskan agar generasi kita gak lupa sejarah, jelas-jelas mereka itu koruptor, dan tentu jasanya tidak sebanding dengan tokoh-tokoh ulama kita dulu yang lebih ikhlas tanpa pamrih dalam perjuangan fisik dan membangun SDM melalui pendidikan. Walikota dan para pejabat itu menikmati gaji, tunjangan dan anggaran proyek-proyek, kok bisa-bisanya disebut pahlawan, yang ada ini bikin malu masyarakat Cilegon,” kecam Hery.
PII juga menilai, selama ini Pemerintah Daerah seakan menutupi dan meniadakan sejarah dan peran tokoh pahlawan asal Cilegon Banten, dengan tidak pernah digelarnya peringatan khusus untuk momen sejarah Cilegon.
“Semoga Pemerintahan baru nanti dengan walikota Cilegon yang baru, lebih peduli dan mau menghidupkan kembali api sejarah, tidak seperti walikota yang sudah-sudah selama ini malah terkesan memadamkan sejarah dan menutupi nilai-nilai perjuangan pahlawan seperti KH Wasyid, Syech Arsyad Thawwil, Syech Djamaludin, KH. Syam’un, KH Ali Jaya, dan ulama-ulama lainnya,” tegas Hery. (*/Red/Rizal)



