Berawal dari Keraguan, Pemudi Cilegon Kini Tempuh S3 di Jepang Lewat Beasiswa

CILEGON – Perjalanan Ni’matil Mabarroh atau biasa disapa Nining menuju studi doktoral di Jepang tidak pernah ia rancang sejak awal. Lahir dan besar di Cilegon, kota industri yang lekat dengan dunia kerja praktis, ia justru memilih jalur yang berbeda, yaitu dunia riset dan akademik.
Saat bersekolah di SMA Negeri 5 Cilegon, Nining belum memiliki cita-cita yang spesifik karena masih mempertimbangkan banyak kemungkinan, antara minat, kemampuan, dan realitas setelah lulus. Menjelang kelulusan, ia sempat mendapatkan tawaran masuk ke program pendidikan kedokteran di universitas swasta.
Dari kesempatan itu muncul tekad baru dalam dirinya untuk menembus program pendidikan kedokteran di perguruan tinggi negeri, dengan pertimbangan biaya yang lebih terjangkau.
Ia mencoba jalur seleksi nasional berbasis undangan (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri-SNMPTN), tetapi belum berhasil. Tidak menyerah disitu, ia kembali mencoba melalui tes tertulis (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi NegeriSBMPTN).
Dalam seleksi tersebut, ia memilih tiga program studi: Kedokteran sebagai pilihan pertama, Kimia sebagai pilihan kedua, dan Fisika sebagai pilihan ketiga. Pilihan terakhir diambilatas saran ayahnya. Ironisnya, fisika dan matematika justru merupakan mata pelajaran yang paling tidak ia sukai, sekaligus menjadi nilai terendahnya selama di sekolah.
Namun hasil seleksi justru membawanya ke arah yang tidak pernah ia bayangkan.
Ia diterima di program studi Fisika, Fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam, Universitas Lampung.
“Saya sangat senang bisa lolos ke perguruan tinggi negeri, tetapidi saat yang sama saya bertanya, apakah saya bisa bertahan di bidang yang selama ini justru menjadi kelemahan saya?” kenangnya kepada Fakta Banten, Minggu, (3/5/2026).
Keraguan itu menjadi bagian dari masa awal perkuliahan. Ia harus memulai dari dasar, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan menghadapi tuntutan akademik yang tidak ringan. Tak jarang ia merasa tertinggal.
Namun, sebuah kesadaran perlahan mengubah cara pandangnya.
“Di satu titik saya sadar, kita sering terlalu fokus mencari alasan kenapa tidak bisa, dibandingkan benar benar mengupayakan agar kita bisa,” ujarnya.
Sejak saat itu, ia mulai menjalani proses dengan lebih tekun dan terbuka. Support yang besar pun ia dapatkan dari orang tuanya. Dari yang awalnya ragu, ia perlahan menemukan pijakan dan tujuan.

Setelah menyelesaikan studi S1, Nining tidak langsung melanjutkan kuliah. Ia menyadari bahwa kemampuan bahasa Inggris menjadi kunci penting untuk membuka peluang yang lebih luas.
Ia kemudian mengikuti program intensif di Kampung Inggris, Pare, Kediri, selama empat setengah bulan. Hasilnya cukup signifikan. Kemampuan bahasa dan kepercayaan dirinya meningkat dan menjadi bekal penting untuk melanjutkan kejenjang berikutnya.
Ia melanjutkan studi magister di Departemen Fisika, Universitas Gadjah Mada (UGM) secara mandiri. Di fase ini, arah yang ia pilih semakin jelas. Ia tidak memilih jalur industri seperti stereotip umum di daerah asalnya, melainkan dunia riset dan akademik.
Selama menempuh studi magister, ia aktif membangun rekam jejak akademik dengan mengikuti konferensi internasional, meraih penghargaan best paper, mengikuti program Sakura Exchange Program, serta mempublikasikan karya ilmiah di jurnal internasional. Pengalaman ini menjadi bekal baginya dalam menentukan arah karir selanjutnya.
Kesempatan ke Jepang datang ketika ia mendaftar program Pre-screening di Division of Materials Science, Nara Institute of Science and Technology saat dirinya berada di semester ketiga. Program ini merupakan jalur seleksi awal untuk menjaring calon mahasiswa doktoral dari Asia Tenggara khususnya dari kampus kerjasama.
Proses seleksi berlangsung berlapis. Tahap awal dilakukan di universitas asal (UGM), kemudian dilanjutkan dengan seleksi oleh pihak kampus di Jepang. Kandidat yang lolos mengikuti serangkaian kegiatan, mulai dari pengenalan laboratorium hingga wawancara dengan calon supervisor.
Nining berhasil lolos dan diterima di laboratorium Solid-state Information Physics.
Perjuangannya belum berhenti di sana.
Ia kemudian mengajukan beasiswa MEXT, yaitu beasiswa penuh dari pemerintah Jepang untuk program doctoral. Hasilnya, ia dinyatakan lolos dan memperoleh pendanaan penuh selama tiga tahun.
Kini, Nining menjalani studi doktoral di bidang Surface science dan Photoelectron spectroscopy di Nara Institute of Science and Technology.
Perjalanannya menjadi bukti bahwa masa depan tidak selalu ditentukan oleh titik awal. Dari seorang siswa yang tidak menyukai fisika dan matematika, hingga menekuni bidang tersebut sampai jenjang doctoral di luar negeri.
Di tengah anggapan bahwa anak muda dari kota industri akan berakhir di dunia industri, ia justru menapaki jalannya sendiri di dunia riset.
Kisah Nining menunjukkan bahwa arah hidup tidak selalu harusjelas di awal. Yang terpenting adalah keberanian untuk terusmelangkah, bahkan saat diliputi keraguan. Dengan terus belajardan menggali potensi diri, hal yang dulu terasa tidak mungkin justru bisa membawa kita melangkah sejauh yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. ***


