Ketum PBMA Dukung Usut Dugaan Korupsi di Krakatau Steel

CILEGON – Pengusutan dugaan kasus korupsi di tubuh Krakatau Steel dibanjiri dukungan mulai dari masyarakat asli Cilegon, pengusaha Cilegon sampai tokoh Banten yang juga sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Mathlau’l Anwar KH Embay Mulya Syarief.

Dukungan tersebut disampaikan langsung oleh Ketum PBMA dalam kunjungan Menteri BUMN tersebut di Kediamannya pada Jumat (1/10/2021) lalu, Erick Thohir juga sekaligus menyerahkan bantuan kepada Nurul Aini, pelajar asal Pandeglang yang dalam waktu satu bulan sukses menerbitkan tiga novel hanya dengan menggunakan handphone.

Sebelumnya diberitakan tokoh Banten yang merupakan Ketum PBMA tersebut pada Kamis (7/10/2021) mengunjungi masyarakat Cilegon di salah satu tempat makan di Cilegon dengan agenda menyampaikan dukungan kepada masyarakat Cilegon untuk mengawal tuntas kasus dugaan korupsi tersebut dan meminta kepada masyarakat untuk tidak melakukan kegaduhan yang malah dapat merugikan KS sendiri.

Kartini dprd serang

“Itu kan kasusnya terjadi sekian lama, bukan baru baru ini, kalau kita bikin gaduh khawatir kan Krakatau Steel itu perusahaan terbuka, akan berpengaruh pada saham yang anjlok, kita dukung dengan cara cara elegan,” kata Ketum PBMA KH Embay Mulya Syarief kepada Fakta Banten usai melakukan kunjungan ke PB Al-Khairiyah, Senin (25/10/2021).

“Saya sudah sampaikan ke Pak Erick juga untuk mendukung pengungkapan kasus itu. Katanya masyarakat ada yang mau demo, sebenarnya jangan, kalau demo nanti akan berpengaruh kepada harga saham itu, kan jadi sakit lagi dia (KS -red) gitu kan, kita ingin KS itu kan cepet sehat, kasusnya diungkap KS makin sehat,” imbuhnya.

Dikutip dari cnbcindonesia.com, di Krakatau Steel Erick mengatakan ada indikasi korupsi terjadi dalam pembangunan pabrik blast furnace (tanur tiup) milik emiten baja asal Cilegon, Banten. Pabrik ini adalah pabrik baja tempat produksi hot metal (besi cair) melalui proses peleburan dan reduksi bijih besi sintered ore, pellet serta lump ore.

Erick menegaskan, pasalnya, pembangunan pabrik dengan dana jumbo mencapai US$ 850 juta atau setara Rp 12,16 triliun (kurs Rp 14.300/US$) ini tak kunjung selesai malah sudah dinyatakan gagal pada akhir 2019 lalu.

Dia menyebutkan akibat pembangunan pabrik dengan dana besar ini, perusahaan harus menanggung beban utang yang tinggi hingga mencapai US$ 2 miliar atau mencapai RP 31 Triliun. (*/Ihsan)

Polda