Mengintip Pelajaran Seni MAN 1 Cilegon; Membangun Karakter Melalui Teater

CILEGON – Runtuhnya karakter masyarakat Indonesia yang dikenal penuh dengan toleransi tak lepas dari tersingkirnya akar seni dan budaya di masyarakat salah satunya adalah seni teater.

Dalam seni teater, pemain diajarkan untuk memahami karakter setiap tokoh yang diperankannya dalam pementasan.

Bicara Teater, tidak hanya tampil dan membuat penonton terkesan.

Namun lebih dari itu, seperti membangun empati, membangun karakter dan membangun rasa kemanusiaan.

Seseorang pemain akan mengenal karakter tokoh yang dimainkannya. Meresapi, memahami dan mendalami tokoh itu.

“Melalui latihan teater, orang diajarkan untuk mengenal karakter orang lain dari tokoh-tokoh yang akan ditampilkannya,” ujar Jose Rizal Manua, seniman teater sekaligus pendiri Teater Anak-anak Tanah Air, seperti dilansir dari kompas.com, Kamis (22/2/2018).

Jose menambahkan, memahami terhadap orang lain terbentuk karena dalam teater, pemain diajak untuk mengenal tidak hanya fisik manusia saja, tapi juga latar belakang sosial dan psikologi orang.

Rektor Institut Kesenian Jakarta Wagiyono mengatakan, perlu adanya terobosan baru untuk menggairahkan teater di Indonesia dengan menjadikan seni teater berkembang di sekolah-sekolah dasar.

“Di sejumlah Negara, anak-anak sudah belajar teater. Belajar teater bukan semata untuk pertunjukan, lebih dari itu, membangun karakter,” tuturnya.

Menengok Teater Sekolah di Kota Cilegon

Beberapa waktu lalu, kami berkesempatan berkunjung ke salah satu sekolah di Kota Cilegon yang sedang melakukan praktek seni teater yang menjadi kegiatan wajib untuk mata pelajaran Seni Budaya yaitu MAN 1 Kota Cilegon.

Pagi itu, hujan turun dengan cepat, langit gelap.

Ruangan kelas diubah menjadi setting panggung dan setting penonton. Gelap, tertutup rapat oleh kain hitam yang menghalangi sinar matahari yang masuk dari jendela.

Ratusan siswa dan guru berkumpul untuk menyaksikan. Kipas blower terpasang di berbagai sudut untuk melawan karbondioksida dari kerumunan penonton.

dprd tangsel

Di atas panggung, lampu klasik berwarna kuning jingga perlahan mulai menyorot dan memainkan perannya. Semakin lama semakin terang.

Para pemain mulai mengambil panggung.

Terdapat tiga buah kursi dengan backround renda kamar yang mulai samar.

Dalam setting itu, bisa digambarkan rumah sederhana dengan penghuni keluarga tanpa harta.

“Ibu berangkat jualan dulu ya,” ungkap si ibu.

“Huhhhh, hidup pas-pasan gini. Capek!” gertak sang anak yang masih duduk di bangku SMP.

“Heh… Kamu kalo bicara jangan sembarangan,” timpal siswa yang memerankan sebagai sang kakak.

Penggalan dialog ini ditampilkan oleh murid-murid kelas XII MAN 1 Kota Cilegon dalam melakoni peran.

Dalam cerita tersebut, keluarga yang ditinggal ayahnya yang menghilang tanpa kabar. Sang ibu, menghidupi anka-anaknya dari jualan daun singkong di pasar.

Dalam penampilan, terlihat salah seorang guru meneteskan air mata karena cerita yang dibawakan mampu meresapi.

Aman Tajudin, selaku sutradara mengatakan, bahwa ide awal dari kisah nyata yang ia alami dalam kehidupannya. Hidup sederhana, tanpa seorang bapak.

“Lumayan bikin idenya nih, ditambah para pemain semuanya tak ada yang berbakat di teater, tapi kami coba dan Alhamdulillah berhasil,” katanya saat ditemui di sela-sela acara.

Aman menambahkan, sejak mengenal dunia teater ia mempunyai rasa percaya diri yang lebih dibandingkan sebelumnya. Selain itu, sikap dan rasa empati terhadap manusia juga lebih terasa.

“Teater berperan dalam membentuk karakter saya kang. Ini juga yang akan saya kembangkan di Kampung ketika lulus nanti, membangun karakter anak-anak dengan teater,” tuturnya. (*/Cholis)

Honda