Pengelola Bantah Parkir Ilegal di Pasar Kranggot: Tidak Semua Ilegal, Kami Sudah Bayar ke Pemerintah
CILEGON – Di tengah tudingan praktik parkir liar yang ramai diperbincangkan publik, sejumlah warga yang menggantungkan hidupnya dari pengelolaan parkir di Pasar Kranggot justru merasa dipinggirkan.
Mereka tak menampik pentingnya aturan, tapi berharap suara mereka sebagai pencari nafkah juga didengar.
Bagi mereka, lahan parkir bukan sekadar tempat menggiring kendaraan, tapi ruang bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi.
Dugaan praktik parkir ilegal di kawasan Pasar Kranggot, Kota Cilegon, dibantah oleh salah satu pengelola, Sumarlan alias Lalan.
Ia menegaskan bahwa tidak semua lahan parkir di area tersebut beroperasi tanpa izin.
“Tidak semua lahan parkir di pasar itu ilegal,” tegas Sumarlan, Rabu (9/7/2025).
Ia mengisahkan bahwa sejak tahun 2020 dirinya bersama warga sekitar pasar telah berupaya mengurus izin secara resmi.
Namun, setiap kali mencoba, mereka justru mendapat kebingungan birokrasi.
“Kami urus izinnya ke Dishub, dilempar ke Disperindag,” keluhnya.
Lalan menegaskan bahwa meskipun izin formal belum sepenuhnya mereka kantongi, para pengelola tidak pernah lepas dari tanggung jawab.
Mereka tetap menyetorkan retribusi kepada pemerintah melalui mekanisme resmi.
“Toh kami bayar pajak retribusi juga, selalu dibayarkan ke pemerintah lewat BPKAD,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar urusan perizinan, seorang pengelola parkir lainnya Jumadi, menginginkan adanya empati dari pemerintah terhadap kondisi para pengelola yang hanya berusaha mencari nafkah untuk keluarga mereka.
Ia berharap pemerintah hadir bukan hanya sebagai penegak aturan, tapi juga sebagai pembina dan pendamping untuk ikut membantu perekonomian masyarakat sekitar.
“Jika ada perizinan yang harus diproses, mohon pemerintah membantu pengelolaan perizinan, jangan dilempar ke sana kemari,” pintanya.
Sorotan terhadap dugaan parkir liar di Pasar Kranggot memang sempat memicu perhatian publik.
Namun di balik polemik tersebut, ada cerita tentang warga kecil yang bergulat dengan birokrasi dan keterbatasan, namun tetap berusaha patuh dan bertanggung jawab. (*/Ika)
