Aktivis Banten Khalid Miqdar Benarkan Langkah Mundur Massa Aksi Pati: Cegah Dijadikan Kambing Hitam Kerusuhan di Jakarta

JAKARTA – Aktivis asal Banten, Khalid Miqdar, buka suara terkait aksi massa dari Pati yang sempat menjadi sorotan di Jakarta.
Menurutnya, gerakan tersebut murni lahir dari keresahan masyarakat dan tidak ada unsur penunggangan dari pihak manapun.
Isu bahwa aksi Pati didanai atau ditunggangi kelompok tertentu, bahkan dikaitkan dengan skenario pelengseran presiden, menurut Khalid hanya muncul dari persepsi di permukaan.
Ia mengaku tidak percaya begitu saja dengan kabar yang bersumber dari katanya.
Untuk memastikan, pada Senin (24/8), Khalid memutuskan langsung turun ke Jakarta. Awalnya ia mencari massa Pati di depan Gedung DPR RI.
Namun setelah ditelusuri, mereka ternyata sudah dipindahkan ke kawasan Ciganjur, di lingkungan Pondok Pesantren Gus Dur.
Di sana Khalid melihat langsung kondisi para peserta aksi. Tidak ada tenda mewah, tidak ada logistik berlebih. Massa Pati hidup sederhana.
Makan sehari-hari hanya ikan dadar, tempe, dan kecap. Itu pun sebagian kiriman dari relawan Banten yang datang menengok.
Khalid juga membantah kabar bahwa warga Pati ditolak masyarakat Betawi. Setelah berkoordinasi dengan sejumlah tokoh Betawi, tidak ada tanda-tanda penolakan.

Massa Pati datang dengan niat tulus menyuarakan aspirasi seluruh rakyat Indonesia, terutama terkait RUU Perampasan Aset Koruptor dan hukuman mati bagi koruptor.
Namun di tengah perjalanan, Khalid mencium gelagat tidak baik. Ia menilai ada kelompok tertentu yang ingin memanfaatkan massa Pati.
Skenarionya, saat audiensi berlangsung di dalam DPR, di luar akan dibuat kerusuhan. Dengan begitu isu utama tentang perampasan aset akan tertutup dan massa Pati yang disalahkan.
Malam sebelum audiensi, Khalid berdiskusi dengan kawan-kawan Pati. Ia menyarankan agar setelah audiensi selesai, massa segera mundur dari lokasi.
Saran itu diterima. Setelah pertemuan dengan anggota DPR dan ada kesepakatan terkait pembahasan RUU Perampasan Aset, massa Pati langsung bergerak pulang sekitar pukul 12.00 WIB.
“Kerusuhan yang terjadi itu di luar teman-teman yang menyuarakan aspirasi. Kami tarik mundur karena ingin kondusif dan murni untuk rakyat,” ujar aktivis yang getol membela Nelayan dan Petani itu saat dihubungi, Jumat (28/8/2026).
Ia menegaskan jika saat itu massa Pati bertahan hingga sore dan terjadi bentrokan, maka nama Pati akan rusak. Narasi publik akan bergeser dari tuntutan hukum koruptor menjadi tudingan Pati sebagai pembuat onar di Jakarta.
Khalid menyayangkan masih ada pihak yang kecewa dengan keputusan mundur cepat tersebut. Baginya, itu justru bukti bahwa upaya menjebak massa Pati gagal.
Perjuangan, kata Khalid, belum selesai. Masih ada agenda lanjutan pada tanggal 15 mendatang. Ia mengajak publik menilai sendiri siapa yang benar-benar tulus berjuang untuk rakyat.
“Waktu yang akan menjawab. Yang jelas kami bersama teman-teman Pati mendorong aspirasi tentang perampasan aset dan hukuman mati koruptor,” pungkasnya.***


