Wisata Anyer

Harumkan Nama Indonesia di Swedia, Atlet Putri Asal Tangsel Malah Gagal Masuk Di Dua SMA Negeri SPMB Jalur Prestasi

TANGERANG– Prestasi membanggakan di kancah internasional ternyata belum menjamin kemudahan akses pendidikan di dalam negeri.

Hal itu dialami Bunga Sekar Anjani, atlet sepak bola putri asal Kota Tangerang Selatan (Tangsel) yang mewakili Indonesia di turnamen Meet the World with SQF di Swedia.

Alih-alih mendapat apresiasi, Bunga justru dinyatakan tidak lolos Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) jalur prestasi non-akademik.

Ia gagal di dua sekolah tujuan, yakni SMAN 2 Tangsel dan SMAN 7 Tangsel.

Keluarga Bunga menilai ada sejumlah kejanggalan dalam proses seleksi.

Mulai dari penilaian sertifikat prestasi, sistem peringkat yang tidak menampilkan nama Bunga, hingga masalah verifikasi saat mendaftar di sekolah pilihan kedua.

Saat pendaftaran di SMAN 2 Tangsel, seluruh dokumen termasuk sertifikat prestasi Bunga telah dinyatakan lolos verifikasi oleh panitia.

Namun ketika hasil diumumkan, nama Bunga tidak muncul sama sekali di daftar peringkat peserta jalur prestasi nonakademik. Di sistem, statusnya hanya tertulis “tidak diterima”.

Keluarga juga mempertanyakan bobot penilaian sertifikat Liga SKF yang dimiliki Bunga. Sertifikat tersebut merupakan bagian dari kualifikasi menuju Gothia Cup.

Diduga, sertifikat itu hanya dihitung sebagai prestasi nasional tidak berjenjang dengan bobot 9 poin, padahal seharusnya masuk kategori berjenjang yang memiliki nilai lebih tinggi.

Minimnya sosialisasi juknis disebut menjadi salah satu kendala yang membuat orang tua kesulitan memahami dasar penilaian.

Masalah serupa terjadi saat mendaftar ke SMAN 7 Tangsel sebagai pilihan kedua. Sistem menampilkan status dokumen Bunga belum terverifikasi, padahal di sekolah pilihan pertama dokumen yang sama telah dinyatakan lolos verifikasi.

Di balik polemik administrasi, keluarga mengaku lebih terpukul dengan dampaknya terhadap kondisi psikologis Bunga.

Selama bertanding di Swedia, Bunga terus menanyakan perkembangan hasil SPMB. Keluarga memilih tidak memberitahu kabar kegagalan agar fokus dan mental bertandingnya tidak terganggu.

Sepulang dari Swedia, harapan Bunga untuk bersekolah di SMA negeri akhirnya pupus. Agar tidak kehilangan tahun ajaran, keluarga memutuskan mendaftarkannya ke sekolah swasta, meski bukan pilihan utama mereka sejak awal.

Keluarga berharap pengalaman Bunga bisa menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara SPMB.

Mereka mendorong agar sistem ke depan lebih transparan, khususnya dalam penilaian prestasi, kejelasan verifikasi data antar sekolah, serta pemberian penghargaan yang adil bagi atlet pelajar yang telah mengharumkan nama daerah dan Indonesia di tingkat internasional.

Kegagalan ini memicu reaksi keras dari dunia olahraga. Lyon, Wakil Ketua PSSI Kota Tangerang Selatan, menyayangkan mekanisme SPMB yang dinilainya terlalu rumit dan tidak memihak atlet berprestasi.

Ia mendesak Pemprov Banten untuk segera melakukan evaluasi total terhadap sistem digitalisasi SPMB, khususnya untuk jalur prestasi.

Saat dimintai konfirmasi mengenai hal ini pada Minggu (26/7/2026), Kadindikbud Banten Jamaluddin belum meresponnya, demikian dengan Anggota DPRD Banten Ananda Trianh Salichan. (*/Ajo)

PT PCM HUT Bhayangkara
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien