Iklan Banner

Menjelang Seba Baduy, Masyarakat Baduy Luar Menikmati Suasana Kota Serang

 

 

SERANG – Kota Serang kembali menjadi saksi bisu pelaksanaan tradisi adat tahunan yang penuh makna, Seba Baduy. Sabtu (3/5/2025), puluhan masyarakat adat Baduy Luar tiba lebih awal di Kota Serang untuk mengikuti rangkaian acara Seba Baduy yang dipusatkan di Gedung Negara, Kota Serang.

Rombongan masyarakat adat ini datang dari pedalaman Kabupaten Lebak dan dihantarkan langsung oleh Wakil Bupati Lebak.

Setibanya di Gedung Negara sekitar pukul 14.00 WIB, mereka disambut secara resmi oleh Gubernur Banten, Andra Soni, yang menerima dengan penuh penghormatan dalam sebuah prosesi penyambutan adat.

Seba Baduy merupakan tradisi tahunan masyarakat Baduy sebagai bentuk penghormatan kepada pemerintah, khususnya pemerintah daerah.

Melalui Seba, masyarakat Baduy menyerahkan hasil bumi kepada Gubernur Banten sebagai simbol ketaatan kepada negara serta bentuk pelestarian nilai-nilai adat dan budaya.

“Tradisi ini bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya menjaga nilai-nilai luhur, kesederhanaan, serta harmoni dengan alam,” ujar Gubernur Andra Soni dalam sambutannya.

Setelah diterima secara resmi, rombongan masyarakat Baduy diarahkan ke tempat peristirahatan untuk menunggu waktu pelaksanaan ritual inti Seba Baduy yang dijadwalkan berlangsung pada pukul 19.30 WIB malam harinya.

Menariknya, sembari menunggu waktu pelaksanaan ritual, sejumlah warga Baduy tampak menikmati suasana perkotaan di sekitar Alun-alun Kota Serang.

Agil HUT Gerindra

Pemandangan ini menjadi momen yang tidak biasa, mengingat masyarakat Baduy dikenal hidup dalam kesederhanaan dan menjauhi hiruk-pikuk kehidupan modern.

Beberapa di antara mereka bahkan terlihat mengunjungi pusat perbelanjaan Mall Ramayana yang terletak tidak jauh dari lokasi acara.

Sarpin, warga Baduy Luar asal Desa Kanekes, mengungkapkan bahwa dirinya telah dua kali mengunjungi mal tersebut.

“Dua kali ke sini, sembari nunggu waktu Seba,” ujar Sarpin saat ditemui di sekitar area mal.

Ia mengatakan bahwa kunjungannya ke mal bukan untuk sekadar berjalan-jalan, tetapi mencari kebutuhan sandang seperti celana.

“Nyari celana. Tapi di sini mahal, kadang bajunya juga kurang bagus,” katanya polos.

Kehadiran masyarakat Baduy di ruang-ruang publik Kota Serang memberikan warna tersendiri dan mencerminkan harmoni antara budaya tradisional dan kehidupan modern.

Momen ini juga menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya bukan berarti menutup diri dari dunia luar, tetapi menjalin hubungan yang selaras tanpa kehilangan jati diri.

Dengan berlangsungnya Seba Baduy, Provinsi Banten sekali lagi menunjukkan komitmennya dalam menjaga dan merawat warisan budaya lokal.

Seba bukan hanya ritual adat, tetapi menjadi jembatan nilai antara leluhur dan generasi masa kini. (*/Fachrul)

Rifki HUT Gerindra
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien