Beras Merah, Komoditas yang Melimpah di Kabupaten Lebak

pcm koperasi

Lebak – Asosiasi Pasar Tani (Aspartani) Kabupaten Lebak menampung produk komoditas pertanian yang dikembangkan petani guna meminimalisasi tengkulak dan spekulan.

“Semua produksi pertanian itu dibeli dengan harga menguntungkan petani,” kata Ketua Aspartani Kabupaten Lebak Arsad saat memasarkan produk pertanian pada kegiatan “car free day” di Lebak, Minggu (15/10/2017).

Pihaknya kini menampung produk komoditas pertanian guna membantu pendapatan petani agar tidak merugi. Hal ini dikarenakan kebanyakan produksi pertanian ditampung tengkulak dan spekulan. Maka dari itu, Aspartani menampung komoditas pertanian guna meningkatkan pendapatan petani.

Baca Juga : Kontes Kerbau di Festival Sawarna, Upaya Pemkab Lebak Memotivasi Peternak

Produksi komoditas pertanian itu berupa sayur-sayuran dan beras yang dipasok ke Pasar Induk Tanah Tinggi Tangerang dan Pasar Induk Cipinang Jakarta. Selain itu, mereka juga menampung aneka kerajinan hasil pertanian di antaranya jamur tiram, kerajinan pisang, aneka makanan singkong, kerupuk emping, dan gula semut. Pihaknya juga menampung buah-buahan jika memasuki musim panen durian, manggis, dan rambutan tangkue.

“Kami mengapresiasi produk komoditas pertanian Lebak cukup bagus dan melimpah,” katanya.

Loading...

Arsad mengatakan, dirinya kerap kali menjual beras merah hasil produk pertanian Kabupaten Lebak untuk mengisi pameran di Kementerian Pertanian, di Pasar Minggu Jakarta Selatan.

Selama ini permintaan beras merah cenderung meningkat dengan alasan kadar gulanya relatif rendah. Bahkan, harga beras merah Kabupaten Lebak dijual Rp15 ribu per kilogram.

Produksi beras merah di Kabupaten Lebak melimpah karena mereka mempertahankan tanam padi gogo. Petani yang mengembangkan beras merah itu antara lain Kecamatan Sajira, Cihara, Cibeber, Cilograng, Malingping, Wanasalam, Cileles, Sobang, Leuwidamar, Bojongmanik, dan Cirinten.

Saat ini produksi beras merah cukup lumayan, karena petani bisa menjual ke pasaran. Biasanya, petani memproduksi beras merah hanya dikonsumsi keluarga saja. Tetapi, kini dijual ke pasaran karena banyak para penderita kencing manis mengonsumsi beras itu. “Kami selama setahun lebih memasok beras merah ke DKI Jakarta,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak Dede Supriatna mengatakan saat ini permintaan beras merah cukup tinggi di pasaran juga menguntungkan pendapatan ekonomi petani. Harga beras merah lebih mahal dibandingkan beras jenis medium maupun premium. Untuk itu, permintaan konsumsi beras merah cukup meningkat sehingga bisa menguntungkan pendapatan petani.

“Kita memasok beras merah ke sejumlah pasar tradisioanal di DKI Jakarta melalui Aspartani Lebak,” tutupnya. (*/Antara)

Koperasi
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien