Ini Jenis Makanan yang Diberikan kepada Jemaah Haji di Saat Armuzna, Berikut Alasannya
MAKKAH – Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia (Kemenhaj) memastikan untuk makanan yang diberikan kepada jemaah saat di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna) adalah makanan siap saji atau ready to eat.
Pemilihan jenis makanan ini karena dinilai lebih praktis dalam pendistribusian di tengah kepadatan jutaan jemaah di Armuzna, dan tetap memenuhi kebutuhan gizi.
Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaff mengatakan bahwa layanan konsumsi, transportasi dan akomodasi, menjadi fokus utama Kemenhaj selama fase puncak haji di Armuzna.
Menurut dia, layanan konsumsi bukan sekadar penyediaan makanan, melainkan juga upaya menjaga stamina dan kesehatan jemaah selama menjalani rangkaian ibadah haji.
“Fase Armuzna merupakan periode yang sangat padat dan kompleks. Distribusi makanan dalam jumlah besar pada waktu bersamaan membutuhkan koordinasi lintas sektor, pengaturan logistik yang presisi, dan kesiapan transportasi yang optimal,” ujar Maria dalam konferensi pers pada Senin (18/5/2026).
Pemerintah pun memilih skema penyediaan makanan siap saji atau ready to eat (RTE) sebagai solusi layanan konsumsi selama jelang, saat, hingga pasca puncak haji.

Berikut empat pertimbangan utama di balik penggunaan makanan RTE bagi jemaah haji Indonesia :
* Pertama, kecepatan distribusi makanan ke hotel-hotel jemaah.
* Kedua, kemudahan konsumsi di tengah mobilitas tinggi selama Armuzna.
* Ketiga, daya tahan makanan yang lebih panjang di tengah cuaca panas Arab Saudi.
* Keempat, tetap terpenuhinya standar gizi, kebersihan, dan keamanan pangan.
“Teknologi pengolahan makanan yang digunakan memungkinkan makanan tetap higienis dan aman dikonsumsi dalam jangka waktu lebih panjang tanpa mengurangi kualitasnya,” jelas Maria.
Kemenhaj juga memastikan menu makanan siap saji tetap disusun dengan cita rasa Nusantara agar sesuai dengan lidah jemaah Indonesia.
Makanan diyakini memiliki rasa yang lezat dan bisa mengobati rasa rindu terhadap makanan kampung halaman selama berada di Tanah Suci.
Selama fase puncak haji atau Armuzna, jemaah haji Indonesia akan menerima total 15 porsi makanan yang disediakan syarikah.

Sebagai informasi, syarikah adalah perusahaan penyelenggara layanan haji di Arab Saudi, yakni Rakeen Mashariq dan Albait Guest.
Saat pelaksanaan puncak haji, hanya pihak syarikah yang diperkenankan beroperasi di lokasi, sehingga distribusi makanan pun dilakukan oleh pihak syarikah.
Pemerintah juga menyiapkan enam porsi makanan siap saji tambahan untuk fase pra dan pasca Armuzna. Paket tersebut akan dibagikan pada 7, 8, dan 13 Dzulhijjah 1447 H atau bertepatan dengan 24, 25, dan 30 Mei 2026.
Maria mengatakan seluruh distribusi makanan siap saji ditargetkan sudah terkirim ke hotel-hotel jemaah Indonesia pada 6 Dzulhijjah 1447 H atau 23 Mei 2026, sebelum pergerakan jemaah menuju Arafah dimulai.
“Kami memahami kualitas konsumsi sangat memengaruhi kondisi fisik jemaah. Karena itu pengawasan dilakukan ketat mulai dari produksi, pengemasan, hingga distribusi,” ujarnya. (*/Red/MCH-2026)

