30 Ton Golden Melon Milik Kelompok Tani Cileles Lebak Mulai Dipanen Pada Bulan Mei 2026, Jadi Harapan Baru Pertanian Modern
LEBAK – Gelombang pertanian hortikultura modern mulai menunjukkan hasil di Kabupaten Lebak. Sepanjang Mei 2026, Kelompok Tani Margawana Mulia di Kecamatan Cileles diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 30 ton golden melon premium secara bertahap.
Jumlah panen tersebut menjadi perhatian karena dinilai membuka peluang baru bagi petani lokal untuk memperoleh keuntungan lebih besar dalam waktu singkat.
Panen raya golden melon yang berlangsung pada Kamis (14/5/2026) itu turut dihadiri Bupati Lebak, Hasbi Asyidiki Jayabaya, bersama unsur Forkopimda, kepala OPD, tokoh masyarakat, kelompok tani hingga pelaku usaha pertanian.
Dalam sambutannya, Hasbi menegaskan Kabupaten Lebak harus mampu mengambil peran penting sebagai daerah penopang ketahanan pangan nasional, terutama melalui penguatan sektor pertanian produktif.
“Lebak sebagai daerah aglomerasi harus berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional. Tahapannya ketahanan pangan dulu terwujud, setelah itu swasembada pangan,” ujar Hasbi.
Ia menilai keberhasilan panen melon premium di Kecamatan Cileles menjadi bukti bahwa sektor pertanian modern di Lebak mulai berkembang dan memiliki potensi pasar yang menjanjikan.
Panen sekitar 30 ton golden melon selama bulan Mei tersebut diproyeksikan dipasarkan ke berbagai jaringan distribusi dan pasar modern. Komoditas hortikultura seperti melon dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi karena permintaan pasar yang terus meningkat.
Selain mendorong penguatan sektor pertanian, Hasbi juga menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur jalan yang dinilai sangat menentukan kelancaran distribusi hasil panen masyarakat.
“Di rumah ibadah bagus, di depannya jalannya rusak sebagai akses, tidak ada artinya. Ada kebun kalau akses jalannya tidak baik, tidak ada,”katanya.
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Lebak saat ini memprioritaskan empat program utama dalam pembangunan daerah, yakni pembangunan infrastruktur jalan, penguatan ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan ekstrem melalui program rumah tidak layak huni, serta penataan kawasan perkotaan.
Hasbi juga mengingatkan pentingnya menjaga lahan pertanian pangan berkelanjutan agar tidak terus mengalami alih fungsi.
“Lahan pangan berkelanjutan harus dipertahankan. Tidak semua lahan bisa diubah fungsi,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Hasbi turut menyinggung program ketahanan pangan nasional yang menjadi perhatian pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
“Presiden ingin seluruh kekuatan negara bergerak bersama mewujudkan ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa panen raya golden melon tersebut bukan hanya kegiatan seremonial semata, melainkan simbol kesiapan Kabupaten Lebak dalam mendukung sektor pangan nasional.
“Hari ini bukan hanya sekadar panen raya melon, tapi bukti nyata bahwa Kabupaten Lebak siap menjadi bagian penting ketahanan pangan,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Kadin Banten, Amal Jayabaya, menyebut keberhasilan panen golden melon di Cileles menjadi sinyal positif bagi masa depan pertanian di Lebak.
Menurut Amal, pihaknya siap membantu pemasaran hasil pertanian masyarakat agar petani memiliki kepastian pasar dan keuntungan yang lebih baik.
“Kita harus mendongkrak petani supaya mendapatkan profit yang lebih baik,” katanya.
Ia berharap keberhasilan panen melon premium tersebut dapat menjadi contoh bagi masyarakat lain untuk mulai mengembangkan pertanian modern dengan hasil yang lebih menjanjikan.
“Ini harus menjadi virus yang baik untuk masyarakat lain,” ujarnya.
Di sisi lain, Hasbi juga mengungkap kondisi fiskal Kabupaten Lebak yang saat ini sedang menghadapi tekanan akibat pemotongan transfer ke daerah dari pemerintah pusat.
“Tahun ini pemotongan TKD Kabupaten Lebak mencapai Rp118 miliar. Bahkan semalam masih ada defisit sekitar Rp120 miliar,” ungkapnya.
Meski demikian, ia optimistis pembangunan daerah tetap dapat berjalan melalui kolaborasi lintas sektor serta pengelolaan anggaran yang transparan dan tepat sasaran.
“Sekarang era transparansi. Semua bisa diakses publik. Pemimpin harus amanah dan memikirkan kepentingan masyarakat,” tuturnya.
Pembina Kelompok Tani Margawana Mulya, Agus R Wisas, mengatakan keberhasilan budidaya golden melon di lahan sekitar empat hektare diharapkan mampu menjadi inspirasi baru bagi petani di Kabupaten Lebak.
“Sekarang sudah ada contoh bahwa jadi petani melon jauh lebih menguntungkan. Kalau tanam kayu butuh tiga tahun, ini 65 hari sudah panen dan pembayarannya cash,” ujarnya.
Menurut Agus, harga golden melon di tingkat petani saat ini juga dinilai lebih kompetitif dibanding harga di pasar modern.
“Kalau di supermarket bisa Rp48 ribu, di sini hanya Rp20 ribu,” katanya.
Selain mengembangkan budidaya melon premium, kelompok tani tersebut kini mulai memperluas sektor pertanian hortikultura dengan menanam sekitar 8.000 batang cabai yang diperkirakan mulai memasuki masa panen pada bulan depan.
Keberhasilan panen golden melon sebanyak 30 ton selama Mei 2026 itu kini menjadi gambaran bahwa pertanian modern di Kabupaten Lebak mulai berkembang menjadi sektor ekonomi baru yang menjanjikan bagi masyarakat pedesaan. (*/Sahrul).

