Bebas Bukan Akhir, Lapas Rangkasbitung Lebak Latih Warga Binaan Jadi Penjahit Mandiri
LEBAK– Upaya pembinaan narapidana terus dikembangkan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Rangkasbitung.
Tak hanya fokus pada kedisiplinan, kini pembinaan menjangkau aspek ekonomi dengan menghadirkan pelatihan keterampilan menjahit bagi warga binaan.
Sebanyak 20 warga binaan mengikuti pelatihan menjahit yang digelar atas kolaborasi antara pihak lapas dan Reni Collection, sebuah usaha lokal yang bergerak di bidang fashion dan konveksi.
Para peserta tampak antusias mempraktikkan teknik menjahit dari para instruktur yang didatangkan khusus.
Bukan hanya latihan dasar, pelatihan ini menyentuh keterampilan menjahit pakaian jadi yang berpotensi dijadikan mata pencaharian selepas masa hukuman usai.
Kepala Lapas Rangkasbitung, Rd Achmad Zaki, menjelaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar program rutin, melainkan bagian dari strategi pemasyarakatan modern yang mengedepankan pemberdayaan manusia.
“Kami ingin memastikan warga binaan kami punya harapan saat kembali ke masyarakat. Bekal keterampilan seperti menjahit ini dapat membuka jalan kemandirian ekonomi,” ujar Zaki kepada Fakta Banten, Minggu (13/7/2025).
Lebih jauh, Zaki menekankan bahwa program ini juga menjadi bentuk nyata dari semangat rehabilitasi dan reintegrasi sosial yang menjadi misi utama lembaga pemasyarakatan.
Senada dengan itu, Eka Yogaswara, Kasubsi Pembinaan Lapas Rangkasbitung, menilai pelatihan ini bukan hanya menciptakan peluang kerja, tetapi juga membangun mental positif bagi warga binaan.
“Mereka tidak hanya belajar menjahit, tapi juga belajar percaya diri, disiplin, dan menciptakan karya. Ini bagian dari pembinaan menyeluruh,” jelas Eka.
Program pelatihan menjahit ini dirancang berlangsung dalam beberapa sesi hingga seluruh peserta mampu membuat produk secara mandiri.
Hasil jahitan mereka ke depan direncanakan dipamerkan dan dijual sebagai produk kreatif warga binaan Rangkasbitung. (*/Sahrul).
