Data Mahasiswa di Lebak Tiba-Tiba Berstatus Meninggal, KUMALA Unilam Desak Kampus Bertindak Nyata
LEBAK – Kegaduhan di lingkungan akademik kembali mencuat setelah munculnya kasus kesalahan data yang mencatat seorang mahasiswa aktif sebagai telah meninggal dunia.
Peristiwa ini memicu reaksi keras dari Keluarga Mahasiswa Lebak (KUMALA) Komisariat Universitas La Tansa Mashiro yang menilai persoalan tersebut tidak bisa dianggap sepele.
Meski pihak kampus telah melayangkan surat permohonan maaf resmi, respons itu dinilai belum menjawab akar persoalan.
Mahasiswa menilai, permintaan maaf tanpa langkah konkret hanya akan memperpanjang ketidakpastian dan merusak kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan.
Ketua KUMALA Unilam, Sudrajat, menyampaikan bahwa pihaknya menghargai sikap terbuka kampus, namun menegaskan perlunya tindakan nyata. Ia menyoroti belum adanya penjelasan rinci terkait penyebab kesalahan maupun rencana perbaikan sistem yang digunakan.
“Ini bukan sekadar kesalahan administratif biasa. Dampaknya bisa meluas, termasuk tekanan psikologis bagi mahasiswa yang terdampak dan keluarganya. Kampus harus serius membenahi sistemnya,” ujarnya kepada Fakta Banten, Sabtu (25/4/2026).
Menurutnya, insiden ini menjadi indikator lemahnya tata kelola data akademik. Ia mendesak agar dilakukan evaluasi menyeluruh, tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga pada mekanisme pengawasan internal yang selama ini berjalan.
KUMALA juga mendorong adanya transparansi dari pihak kampus terkait hasil penelusuran internal. Keterbukaan dinilai penting agar tidak menimbulkan spekulasi liar sekaligus memulihkan kepercayaan mahasiswa.
Sebagai bentuk pengawalan, mahasiswa mengusulkan pembentukan tim evaluasi independen yang melibatkan unsur mahasiswa. Langkah ini dianggap penting untuk memastikan proses pembenahan berjalan objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sampai saat ini, belum ada keterangan lanjutan dari pihak Universitas La Tansa Mashiro mengenai langkah konkret pasca permohonan maaf yang telah disampaikan. (*/Sahrul).


