Serahkan Hasil Bumi ke Bupati Lebak, Ini Amanah Warga Baduy yang Jadi Pelajaran di Seba 2026
LEBAK – Tradisi tahunan Seba Baduy kembali menghadirkan pesan kuat dari masyarakat adat kepada pemerintah.
Bukan sekadar seremoni, prosesi yang berlangsung di Kabupaten Lebak pada Jumat (24 April 2026) itu menjadi ruang penyampaian amanah melalui simbol hasil bumi yang sarat makna.
Ribuan warga Baduy menempuh perjalanan kaki dari wilayah adat menuju pusat pemerintahan.
Di tangan mereka, tersusun rapi aneka hasil alam seperti pisang, gula aren, talas, jaat, hingga laksa yang bukan hanya komoditas, melainkan lambang keseimbangan hidup, kearifan lokal, dan rasa syukur atas keberkahan alam.
Prosesi inti terjadi saat perwakilan adat, Jaro Tanggungan ke-12, Jaro Saija, menyerahkan langsung hasil bumi tersebut kepada Bupati Lebak, Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya.
Dalam momen sakral itu, laksa menjadi simbol utama yang disampaikan sebagai “babawaan Seba” atau titipan adat dari masyarakat Baduy.
Penyerahan tersebut tidak sekadar formalitas. Ia mengandung makna mendalam tentang kepercayaan, tanggung jawab, serta harapan agar pemerintah menjaga harmoni antara pembangunan dan kelestarian alam.
Dalam penyampaiannya, Jaro Saija mengingatkan pentingnya memegang teguh pikukuh karuhun (aturan leluhur).
Ia menegaskan bahwa kehidupan masyarakat Baduy tidak bisa dilepaskan dari keseimbangan dengan alam.
Pesan yang paling ditekankan adalah soal air. Menurutnya, air merupakan sumber kehidupan yang tidak boleh dirusak atau dicemari. Ia menitipkan harapan agar pengelolaan lingkungan, terutama limbah, mendapat perhatian serius.
“Air adalah kehidupan. Tidak boleh dikotori, tidak boleh dirusak. Semua manusia membutuhkan air bersih,” menjadi inti pesan yang disampaikan dalam bahasa adat.
Tak hanya menerima, Pemerintah Kabupaten Lebak juga membalas dengan memberikan bingkisan kepada masyarakat Baduy saat prosesi pamulang (kepulangan).
Gestur ini menjadi simbol hubungan timbal balik yang harmonis antara pemerintah dan masyarakat adat.
Seba Baduy tahun ini kembali menegaskan bahwa hasil bumi yang dibawa bukan sekadar pemberian, melainkan bahasa simbolik yang menyuarakan amanah besar menjaga alam, merawat tradisi, dan memastikan generasi mendatang tetap hidup dalam keseimbangan yang sama. (*/Sahrul).


