Keteladanan Menteri dan Wamen Jadi Kunci Sukses Haji 1447H: Pejabat Turun Lapangan, Jemaah Lebih Tertib

MAKKAH – Keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji 1447H/2026 dinilai tidak lepas dari keteladanan yang ditunjukkan Menteri Haji dan Umroh (Menhaj) Gus Irfan Yusuf dan Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak.
Anggota Amirul Hajj 1447H/2026 Romo H.R. Muhammad Syafi’i, mengatakan kerja langsung pimpinan di lapangan berhasil menggerakkan energi seluruh pejabat dan petugas haji untuk memberikan pelayanan lebih baik.
“Energi kerja petugas tumbuh, karena melihat Menteri dan Wakil Menterinya tidak berhenti di lapangan. Kalau ini tidak ditunjukkan, mungkin hanya jadi perintah. Tapi ini mereka benar-benar aktif,” ujarnya.
Menurutnya, keteladanan tersebut menciptakan budaya kerja baru di jajaran Kementerian Haji dan Umrah. Pejabat eselon dan petugas di lapangan terlihat lebih responsif, sigap, dan proaktif dalam menangani kebutuhan jemaah.
“Dalam pikiran mereka hanya ada satu hal, bekerja, bekerja, dan memberikan pelayanan. Saya kira baru kali ini pimpinan haji RI berhasil menunjukkan itu,” katanya.

Selain keteladanan pimpinan, Syafi’i menyoroti komunikasi yang terbangun baik antara Kemenhaj dengan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU).
Komunikasi intensif itu, menurutnya, menjadi kunci membangun kepatuhan dan kedisiplinan jemaah saat puncak Armuzna.
Hasilnya terlihat jelas di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Syafi’i mengaku tidak menemukan lagi jemaah yang kebingungan mencari tenda atau berkeliaran di tengah terik matahari.
“Tahun ini tenda sudah by name, ada nama kloter dan nama jemaah. Sistem pendorongan dari hotel ke Arafah, Muzdalifah, dan Mina juga tertib. Jemaah dipanggil per kloter, jadi tidak ada penumpukan di lobi,” jelasnya.
Ia menambahkan, arahan yang disampaikan KBIHU kepada jemaah selaras dengan instruksi Kemenhaj. Keselarasan itu membuat jemaah lebih mudah mengikuti prosedur, termasuk saat perpindahan dari Arafah ke Muzdalifah dan Mina.
“Ketika ada yang belum bisa beradaptasi, segera ditangani petugas. Ada 18 mobil buggy disiagakan. Saya merekomendasikan tahun depan jumlahnya dilipatgandakan, dan itu sudah dicatat Kementerian,” ujarnya.
Keteladanan pimpinan juga berdampak pada sektor teknis lain. Klinik satelit di setiap tower kini bekerja sama dengan Saudi German Hospital di bawah koordinasi KKHI.
Hasilnya, jumlah jemaah yang sakit dan dirawat menurun drastis dibanding tahun lalu.
“Tahun lalu banyak yang dirawat. Tahun ini satu pun tidak ada yang dirawat. Jumlah yang sakit dan meninggal juga jauh menurun,” kata Syafi’i.
Soal konsumsi, ia menyebut tidak ada keluhan berarti. Menu makanan dinilai cocok dengan kondisi jemaah. Hanya satu keluhan kecil terkait minimnya cabai, yang memang sengaja dikurangi untuk menjaga kesehatan jemaah saat puncak haji.
Dampak dari kerja kolektif yang digerakkan oleh keteladanan pimpinan itu mendapat pengakuan dari pemerintah Arab Saudi. Menteri Dalam Negeri Arab Saudi disebut memberikan apresiasi langsung atas kinerja petugas haji Indonesia.
“Beliau mengatakan, kalau kalian ingin melihat pelayanan petugas haji yang baik, contoh petugas haji dari Indonesia,” ujar Syafi’i.
Pengakuan itu diperkuat dengan undangan Menteri Haji RI ke Istana Mina. Dalam praktiknya, undangan tersebut sering menjadi sinyal nominasi penghargaan pelayanan haji terbaik dari pemerintah Arab Saudi.
“Kalau ini terjadi, ini pertama kali dalam sejarah 80 tahun Indonesia merdeka di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo dengan Kementerian Haji yang baru,” kata Syafi’i.
Ia menyimpulkan, keberhasilan haji tahun ini merupakan bukti bahwa kepemimpinan yang turun langsung ke lapangan mampu mengubah budaya kerja birokrasi dan meningkatkan kepatuhan jemaah.
“Kalau tahun ini bisa baik dengan persiapan lima bulan, tahun depan pasti bisa lebih baik lagi. Asal keteladanan ini dijaga,” tutupnya. (*/Red/MCH-2026)


