Harga Kebutuhan Pokok Alami Inflasi di Awal 2025, Warga Lebak Mengeluh Beban Hidup Meningkat
LEBAK – Baru satu bulan memasuki tahun 2025 membawa tantangan baru bagi warga Kabupaten Lebak, terutama dalam menghadapi lonjakan harga kebutuhan pokok.
Sejumlah bahan makanan mengalami kenaikan atau inflasi membuat masyarakat harus berhemat lebih ketat dalam pengeluaran sehari-hari.
Meskipun menurut data Disperindag Lebak tidak ada kenaikan yang signifikan soal kebutuhan pokok di Pasar Rangkasbitung pada tahun 2025.
Tapi bagi kalangan kelas bawah harga tersebut sangat terbilang tinggi.
Di pasar tradisional Rangkasbitung, harga cabai merah yang pada akhir tahun lalu masih berkisar Rp35.000 per kilogram, kini menyentuh angka Rp 80.000.
Tak hanya itu, harga minyak goreng yang sempat turun tahun lalu kini kembali naik menjadi Rp 18.000 -Rp 20.000 per liter.
Banyak warga mengeluhkan kenaikan harga ini, terutama mereka yang memiliki penghasilan pas-pasan.
Sari (38), seorang ibu rumah tangga di Kecamatan Cibadak, mengatakan bahwa biaya belanja bulanannya kini jauh lebih besar dibanding tahun lalu.
“Dulu, dengan uang Rp100.000 saya bisa beli berbagai kebutuhan dapur untuk beberapa hari, sekarang tidak cukup. Harus lebih pintar mengatur supaya tetap bisa makan dengan gizi cukup,” keluhnya, Minggu, (2/2/2025).
Keluhan serupa juga datang dari para pedagang makanan kecil. Deni (42), penjual nasi uduk, mengaku terpaksa mengurangi porsi dagangannya agar tidak menaikkan harga jual terlalu tinggi.
“Harga bahan baku naik terus, tapi kalau saya ikut naikkan harga, pelanggan bisa berkurang. Jadi sekarang saya akali dengan mengurangi porsi sedikit, semoga pelanggan tetap bisa menerima,” ungkapnya.
Kenaikan harga ini tidak hanya berdampak pada rumah tangga dan pedagang kecil, tetapi juga para pekerja harian dan buruh. Mereka yang bergantung pada penghasilan harian merasa beban ekonomi semakin berat.
Rudi (45), seorang buruh bangunan, mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan keluarganya.
“Gaji saya tetap, tapi harga semua naik. Kalau begini terus, bisa-bisa saya harus cari pekerjaan tambahan,” katanya.
Sejumlah pedagang menduga kenaikan harga ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya cuaca yang tidak menentu sehingga mempengaruhi hasil panen petani, serta meningkatnya permintaan menjelang bulan Ramadan yang sudah semakin dekat.
Selain itu, biaya transportasi yang lebih tinggi juga disebut menjadi penyebab utama mahalnya harga barang di pasaran.
“Barang dari luar daerah juga naik harganya karena ongkos kirim mahal. Ini yang membuat harga di pasar ikut naik,” ujar Ujang (50), seorang pedagang sembako di Pasar Rangkasbitung.
Masyarakat berharap kondisi ini segera membaik agar daya beli tetap terjaga. Mereka juga berharap ada solusi yang dapat membantu meringankan beban ekonomi, seperti operasi pasar murah atau program bantuan langsung untuk warga yang terdampak kenaikan harga ini.
“Semoga harga-harga bisa kembali normal atau setidaknya tidak naik terus. Kalau begini terus, makin sulit hidup,” kata Lina (30), seorang pekerja di pabrik di Lebak.
Dengan kondisi harga yang terus bergerak naik, masyarakat Kabupaten Lebak harus lebih cermat dalam mengelola keuangan agar tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. (*/Sahrul).


