Jadi Pedagang Keliling, Perempuan di Lebak Ini Penopang Ekonomi Keluarga
LEBAK – Perempuan pedagang keliling di Kabupaten Lebak, Banten, bekerja keras untuk menopang ekonomi keluarga dan keluar dari jerat kemiskinan ekstrem.
“Kami sudah 20 tahun berjualan kue keliling,” kata Atik (55), warga Cijoro Bendungan, Desa Rangkasbitung Timur, Selasa (21/1/2025).
Atik mengatakan, dari usaha berjualan kue keliling, ia bisa mendapatkan keuntungan sekitar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per hari.
Hasil tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga dan menabung demi pendidikan anak-anaknya.
Salah satu putrinya saat ini menempuh pendidikan di pondok pesantren. Sementara, lima anak lainnya sudah menikah.
“Anak-anak kami bisa belajar di pesantren berkat hasil usaha berjualan kue keliling,” ungkapnya.
Atik menjajakan aneka penganan tradisional seperti kue gegetuk, bola-bola, abudin, bugis, papais, kue cincin, gemblong, ketan, dan lepet.
Produksi kue ini dikerjakan mulai sore hingga dini hari, kemudian dijual dari pukul 07.00 hingga 13.00 WIB dengan berjalan kaki sejauh 6 kilometer sambil membawa dagangan seberat 20 kilogram.
Meski kini memasuki musim hujan, Atik tetap berjualan dengan melindungi dagangannya menggunakan plastik agar tidak terkena air.
“Kami tetap berjualan meski hujan. Ini satu-satunya sumber pendapatan kami karena suami sudah 20 tahun tidak bisa bekerja akibat kecelakaan,” ujarnya.
Kisah serupa dialami Siti (50), warga Rangkasbitung, yang menghidupi keluarganya dengan berjualan kue keliling selama 15 tahun.
Dengan penghasilan sekitar Rp130 ribu per hari, ia mampu membiayai pendidikan dua anaknya hingga ke perguruan tinggi.
“Kami berjualan dari pukul 09.00 hingga 16.30 WIB dengan berjalan kaki sejauh 10 kilometer. Hasilnya cukup untuk pendidikan anak-anak,” kata Siti.
Ma Yayah (80), pedagang keliling lainnya, juga masih aktif berjualan meski usianya sudah lanjut dan sering kesulitan berjalan kaki.
Selama 55 tahun, ia menjajakan nasi uduk, buras, bugis, papais, pisang goreng, dan makanan lainnya dengan keuntungan sekitar Rp120 ribu per hari.
“Dagangan ini milik orang lain, kami hanya mengambil keuntungan saja,” ujarnya.
Sekretaris Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak, Imam Suangsa, mengapresiasi perjuangan para perempuan pedagang keliling dalam menopang ekonomi keluarga.
Pemerintah juga memberikan pembinaan dan pendampingan agar usaha mereka dapat berkembang.
“Saat ini, jumlah perempuan yang bergerak di sektor UMKM mencapai sekitar 158 ribu orang, termasuk ribuan pedagang keliling,” kata Imam.
Pemerintah sebelumnya telah menyalurkan bantuan modal usaha sebesar Rp3,6 juta bagi pelaku UMKM dan berharap program ini dapat kembali dilanjutkan untuk mendukung keberlanjutan usaha mereka.
“Kami berharap bantuan modal usaha dari pemerintah dapat terus digulirkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” tutup Imam.(*/Nandi)


