Wisata Anyer

Sumber Air Ribuan Warga Lebak Terancam, Sungai Ciberang Diduga Alami Pencemaran Saat Kemarau

LEBAK– Di tengah musim kemarau yang membuat sejumlah wilayah mulai mengalami keterbatasan sumber air, kondisi Sungai Ciberang menjadi perhatian masyarakat.

Sungai yang selama ini menjadi tumpuan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tersebut diduga mengalami perubahan kualitas air dengan kondisi keruh dan menimbulkan kekhawatiran.

Perubahan kondisi Sungai Ciberang dirasakan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Lebak, khususnya masyarakat yang berada di Kecamatan Lebak Gedong, Cipanas, hingga Sajira.

Saat pasokan air bersih mulai sulit diperoleh, sebagian warga kembali memanfaatkan aliran sungai untuk berbagai kebutuhan.

Warga khawatir perubahan warna air tersebut dapat berdampak terhadap kesehatan serta keberlangsungan ekosistem sungai.

Mereka berharap pemerintah dan instansi terkait segera melakukan pemeriksaan untuk memastikan penyebab kondisi tersebut.

Salah seorang warga, Iwan Sajra, mengatakan Sungai Ciberang memiliki peran penting bagi masyarakat, terutama ketika musim kemarau berlangsung.

“Ketika musim kemarau seperti sekarang, banyak warga kembali menggunakan air Sungai Ciberang. Kalau kondisi air berubah keruh, tentu menjadi perhatian karena masyarakat masih bergantung pada sungai ini,” ujar Iwan.

Menurutnya, perubahan warna air terlihat di beberapa titik aliran sungai. Ia menduga kondisi tersebut berkaitan dengan aktivitas pengolahan emas ilegal yang berada di wilayah hulu, namun meminta agar dugaan tersebut dibuktikan melalui pemeriksaan resmi dari pihak berwenang.

“Kami tidak ingin membuat kesimpulan sendiri. Yang dibutuhkan adalah pemeriksaan agar penyebabnya jelas dan bisa segera ditangani apabila memang ditemukan pencemaran,” katanya.

Iwan menjelaskan, Sungai Ciberang bukan hanya menjadi sumber air bagi masyarakat sekitar, tetapi juga memiliki peran penting dalam sistem aliran menuju Bendungan Karian.

Karena itu, menurutnya, menjaga kualitas sungai harus menjadi perhatian bersama lintas wilayah.

“Kami berharap pemerintah daerah maupun pihak terkait di wilayah hulu dan hilir bersama-sama menjaga sungai ini. Air sangat dibutuhkan masyarakat, apalagi saat kemarau,” ujarnya.

Pantauan di lapangan menunjukkan adanya perubahan warna pada aliran Sungai Ciberang di sekitar Jembatan Kampung Muhara, Desa Ciladaeun, Kecamatan Lebak Gedong. Perbedaan warna air terlihat pada bagian aliran tertentu yang diduga berasal dari arah hulu.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena masih terdapat warga yang memanfaatkan sungai untuk kebutuhan sehari-hari. Sejumlah aktivitas masyarakat, termasuk penggunaan air untuk mandi, masih terlihat dilakukan di beberapa lokasi.

Hingga saat ini, penyebab pasti perubahan kualitas air Sungai Ciberang masih perlu dipastikan melalui pengujian dan pemeriksaan dari instansi yang memiliki kewenangan.

Masyarakat berharap langkah cepat dilakukan agar sumber air yang menjadi penopang kehidupan warga tetap terjaga. (*/Sahrul).

WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien