Wisata Anyer

Tergerus Industri, Sawah di Banten Menyusut 7 Ribu Hektare

SERANG– Lahan Baku Sawah (LBS) di Provinsi Banten terus menyusut akibat masifnya alih fungsi lahan menjadi kawasan industri dan perumahan.

Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten mencatat, LBS yang sebelumnya 194 ribu hektare kini tersisa sekitar 187 ribu hektare. Artinya, ada sekitar 7 ribu hektare sawah yang hilang.

Plt Kepala Distan Banten, Saiful Bahri Maemun tidak menampik penyusutan tersebut sangat signifikan.

“Kalau lihat per tahun, LBS kita dari 194 ribu hektare sekarang 187 ribu,” ujar Saiful di Kota Serang, Rabu (30/9/2026).

Saiful menyebut, alih fungsi lahan menjadi penyebab utama. Di satu sisi kabupaten/kota ingin genjot industri, tapi di sisi lain sawah yang jadi korban.

“Kita tidak bisa memungkiri, alih fungsi lahan ini sangat berpengaruh. Teman-teman di kabupaten/kota tentu ingin meningkatkan sektor industri. Namun peningkatan industri ini kerap memakan lahan baku sawah,” katanya.

Kondisi paling parah terjadi di Tangerang Raya. LBS di Kota Tangerang dan Tangerang Selatan bahkan sudah nyaris mendekati nol.

“Ya sekarang kayak Tangerang kan sudah mulai, biarpun ya masih kecil-kecil. Apalagi kayak Kota Tangerang sudah tidak ada, Tangsel sudah tidak ada, sudah nol LBS-nya,” ungkapnya.

Untuk mengerem laju alih fungsi, Distan kini tengah rekonsiliasi data dan mendorong penetapan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) di tiap kabupaten/kota. Daerah diminta mempertahankan minimal 84 persen lahan pertanian.

“Kita belum hitung semuanya, tapi kita nunggu dari penetapan LP2B dari masing-masing kabupaten/kota,” ujarnya.

Sementara itu, Asda Perekonomian dan Pembangunan Setda Banten, Budi Santoso mengatakan Gubernur Andra Soni telah mengusulkan LBS seluas 195,8 ribu hektare dengan Lahan Sawah Dilindungi (LSD) 165 ribu hektare ke pemerintah pusat.

Guna menjaga ketahanan pangan di tengah lahan yang menyusut, Distan menerapkan strategi Luas Tambah Tanam (LTT).

“Biarpun luas lahan berkurang, kita berupaya meningkatkan efisiensi dan frekuensi tanam. Lahan yang tadinya hanya bisa ditanam satu atau dua kali setahun, kita dorong menjadi tiga kali tanam agar target produksi pangan tetap tercapai,” pungkasnya.***

HKTI Banten
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien