Warisan Sejarah Multatuli Terlantar, Rumah Bersejarah di Lebak Menanti Sentuhan Pemkab

LEBAK– Di jantung kawasan RSUD Adjidarmo Rangkasbitung berdiri sunyi sebuah bangunan tua, yang dulu pernah dihuni tokoh legendaris Multatuli nama pena dari Edward Douwes Dekker.
Bangunan bersejarah ini, yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya, kini tampak tak terurus dan nyaris terlupakan, meski menyimpan jejak penting masa kolonial di Lebak.
Rumah tersebut dibangun pada abad ke-19 dan pernah menjadi saksi bisu perjuangan Edward dalam memperjuangkan keadilan bagi masyarakat Lebak pada tahun 1856.
Selama 84 hari, Dekker menempatinya saat menjabat sebagai Asisten Residen. Namun kini, rumah dinas eks pejabat kolonial itu mengalami kerusakan di berbagai bagian dan belum juga tersentuh revitalisasi.
Menurut Kepala Museum Multatuli, Ubaidillah Muhtar, upaya pelestarian bangunan ini sudah pernah dirancang. Pada 2018 telah dilakukan kajian untuk revitalisasi, dan bahkan pada 2020 Pemerintah Kabupaten sempat mengalokasikan anggaran sebesar Rp3 miliar.

“Sayangnya, saat itu terjadi pandemi COVID-19, dan seluruh anggaran dialihkan untuk penanganan dampak kesehatan dan sosial. Hingga kini, rencana itu belum bisa dilanjutkan karena kendala biaya,” ujarnya, Rabu (7/5/2025).
Ubai menuturkan bahwa rumah tersebut pernah berubah fungsi beberapa kali. Mulai dari markas tentara kolonial pada 1850, tempat rawat tentara Belanda tahun 1852, hingga menjadi gudang obat RSUD Adjidarmo pada awal 2000-an.
Bangunan seluas 144 meter persegi itu resmi diakui sebagai cagar budaya sejak 2011, namun perubahan fungsi dan peristiwa besar seperti letusan Gunung Krakatau 1883 dan pemberontakan petani 1888 turut mengubah wajah aslinya.
Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kabupaten Lebak, Luli Agustina, mengatakan bahwa wacana revitalisasi belum dihapus dari agenda pemerintah daerah. Namun, waktu pelaksanaannya masih belum bisa ditentukan.
“Pemkab tetap mempertimbangkan rencana revitalisasi, tetapi keuangan daerah belum memungkinkan. Kami masih menunggu momen yang tepat saat anggaran tersedia,” kata Luli.
Kini, bangunan itu menunggu uluran tangan untuk kembali bangkit sebagai simbol sejarah dan edukasi.
Warisan Multatuli di Lebak tak semestinya dibiarkan usang, apalagi ketika nilai sejarahnya begitu tinggi dan berpotensi menjadi magnet wisata budaya di masa depan.(*/Sahrul).

