Wisata Anyer

Sambut Jemaah Haji Tertua 103 Tahun Mbah Mardijiyono, Petugas Sigap Menggendong Turun dari Bus Saat Tiba di Hotel Madinah

MADINAH – Di usia 103 tahun, Mardijiyono Karto Sentono akhirnya menapakkan kaki di Tanah Suci.

Jemaah asal Piyungan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu menjadi jemaah haji tertua Indonesia tahun 1447 H/2026 M.

Mbah Mardijiyono tiba di Madinah bersama Kloter 9 Embarkasi Yogyakarta (YIA).

Kedatangan Mbah Mardijiyono langsung mencuri perhatian petugas dan jemaah lain.

Dengan kondisi fisik yang sudah renta, ia tidak berjalan sendiri.

Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) sigap menggendongnya saat turun dari kendaraan menuju area penerimaan di Makareem Hotel, kamar 533.

Setibanya di Madinah, Mbah Mardijiyono mengaku sangat senang dan bersyukur.

Meski usianya telah melampaui satu abad, semangatnya untuk beribadah tetap kuat.

Mbah Mardijiyono yang sehari-hari bekerja sebagai petani itu menyimpan harapan sederhana namun penuh makna, bisa beribadah di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram.

Keinginan itu menjadi bahan bakar semangatnya, meski tubuh sudah tak lagi sekuat dulu.

DPRD Banten Hari Buruh

“Alhamdulillah bisa sampai di sini,” ucap Mbah Mardijiyono singkat dengan mata berkaca-kaca.

Kepala Daerah Kerja (Daker) Madinah, DR. Khalilurrahman, mengaku terharu sekaligus senang melihat tekad Mbah Mardijiyono.

“Di usia yang sangat lanjut, semangat untuk menunaikan ibadah haji menjadi contoh nyata keteguhan niat seorang hamba,” ujarnya.

Khalil mengungkapkan, merawat jemaah sepuh sebagai kemuliaan bagi petugas. Ia bahkan sempat meminta doa doa kepada jamaah sepuh tersebut.

“Ini ibaratnya orang yang doanya mustajabah. Makanya saya tadi minta doa kepada beliau,” kata Khalilurrahman.

Ia berpesan khusus kepada petugas PPIH untuk memberikan pendampingan penuh, termasuk ibadah fardunya serta harus sering beristirahat.

“Tolong dijaga Bapak ini. Pastikan ibadahnya juga bisa berjalan, terutama yang fardu-fardu. Makannya dikontrol, istirahatnya dikontrol. Cuaca di Madinah beranjak panas, kalau tidak memungkinkan jangan dipaksakan,” tegasnya.

Khalil menekankan kesehatan Mbah Mardijiyono harus benar-benar dijaga, terutama saat wukuf di Arafah nanti.

Momen ini tak hanya menunjukkan dedikasi petugas, tetapi juga menjadi simbol kuatnya tekad seorang lansia dalam menunaikan rukun Islam kelima.

Kisah Mbah Mardijiyono menjadi inspirasi bahwa keterbatasan usia bukanlah halangan untuk beribadah, selama ada niat, doa, dan usaha yang kuat.

“Kalau seandainya kita berhasil menghantarkan beliau mendapatkan haji yang mabrur, insyaAllah kita semuanya akan mendapatkan haji yang mabrur. Yang balasannya surga dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” pungkas Khalil. (*/Red/MCH-2026)

Hardiknas DPRD Banten
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien