Dari Tabungan Rp200 Ribu Menuju Ka’bah: Kisah Haru Guru Ngaji Asal Banten Berangkat Ibadah Haji
MAKKAH – Kawasan Aziziyah, Makkah siang itu panas. Di antara riuh jemaah yang hilir mudik, seorang perempuan 59 tahun bersandar di tembok hotel.
Kerudung hitamnya basah. Bukan karena keringat, namun air mata Nurhayati jatuh lagi.
“Ya Allah,” ujarnya lirih.
Jemaah asal Embarkasi Jakarta-Banten (JKB) itu tidak sanggup menahan kenangan.
Setiap tetes air matanya menyimpan 21 tahun rindu yang akhirnya tuntas.
Sejak 2005, Nunung, begitu ia disapa, hidupnya untuk Al-Qur’an. Ia guru ngaji anak-anak di Ciputat. Upahnya tidak seberapa.
Cita-cita ke Tanah Suci dulu hanya berani ia titipkan lewat doa setiap mengantar teman berangkat haji.
“Dulu cuma bisa ngaji, ikut doain yang berangkat,” kata kepada Tim Media Center Haji, Selasa (5/5/2026) lalu.
Matanya menerawang, tak putus berharap bertemu Ka’bah, memenuhi panggilan-Nya.
“Dalam hati saya bilang, ya Allah, kapan giliran hamba?,” harapnya kala itu.
Satu kalimat mengubah segalanya. Seorang teman berbisik, hendak memberikan semangat sekaligus jalan agar bisa berhaji.
Karena do’a saja terkadang tak cukup, perlu dibarengi dengan usaha dan kesabaran.
“Kalau nggak nabung, Allah nggak dengar doa ibu,” ujarnya.
Nunung seperti tertampar. Ia sadar, lantas pulang, bicara ke anaknya. Jawaban yang ia terima justru mengiris.
“Memangnya ibu punya uang?”, tanya anaknya saat itu.
Namun Nunung yakin pepatah sedikit-dikit lama-lama menjadi bukit. Demikian Nunung mulai menabung, dibarengi dengan konsisten.
Ia datang ke bank. Setoran awal tak banyak, senilai Rp200 ribu. Nunung nekat, ia jujur soal penghasilannya yang kecil. Bertemu petugas, jawaban petugas itu sampai sekarang ia simpan di dada.
“Nggak apa-apa, Ibu. Nanti uangnya Allah yang nambahin,” kata dia menceritakan.
Kalimat itu jadi bahan bakar. Nunung sering ke bank, menabung. Kadang Rp50 ribu, kadang Rp100 ribu, tidak pernah absen, 13 tahun. Ia ulang itu selama 13 tahun.
Tahun 2013, mukjizat kecil terjadi. Buku tabungannya menyentuh angka Rp23,5 juta, cukup untuk satu nomor porsi haji. Tangannya gemetar pegang bukti setoran awal BPIH.
Tapi panggilan ke Tanah Suci belum masihh harus menunggu, menunggu, menunggu 12 tahun lagi.
Ia khawatir, belum sempat melihat Ka’bah langsung, maut malah lebih dahulu datang.
“Dik, saya takut mati sebelum berangkat,” katanya suatu malam ke anaknya.
Tahun 2026, panggilan itu datang. Namanya keluar di manifest kloter JKB, rindunya dan penantiannya terbayar bisa ke Tanah Suci, bisa menunaikan rukun kelima.
“Alhamdulillah, bener-bener barokah bisa sampai sini,” ucapnya. Dadanya naik turun. Tangisnya pecah.
Detik paling berat, ia menceritakan saat kedua mata itu pertama kali melihat Ka’bah. Nunung mengaku napasnya berhenti, lututnya lemas.
“Demi Allah, bisa cium Ka’bah, pegang Hajar Aswad, dijagain mutawwif. Saya cuma bisa bilang ya Allah, ya Allah,” katanya.
Di Madinah, Sang Pencipta beri dia bonus. Ia masuk Raudhah empat kali.
“Tidak semua orang bisa, dik,” bisiknya.
“Itu hadiah.” ujarnya.
Namun perjalanannya tidak mulus. Kakinya sering sakit. Jalan pelan-pelan. Tapi satu doa yang ia ulang terus.
“Ya Allah, jangan bikin saya nyusahin orang.”
Dan Allah dengar. Ia kuat. Ia sehat sampai hari ini.
Nunung berangkat sendiri. Suami dan anak-anaknya belum dipanggil. Maka di depan Ka’bah, ia titip doa paling pilu.
“Saya minta sama Allah, izinkan saya balik lagi. Tapi jangan sendiri. Bawa suami, bawa anak-anak. Biar mereka rasain tawaf, sai, biar mereka nangis juga di Raudhah kayak ibu,” pintanya tulus.
Ia usap air mata lagi, lalu senyum. Senyum yang mahal. Senyum yang dibayar dengan puluhan tahun sabar, Rp200 ribu pertama, dan ribuan waktu yang sempatkan, ia tukar dengan langkah ke bank.
Di Makkah siang itu, satu guru ngaji membuktikan, panggilan Allah tidak pernah salah alamat. Sekecil apapun ikhtiar, kalau dia berkehendak, Ka’bah pun didekatkan. (*/Red/MCH-2026)

