Di Bawah Langit Terbuka Muzdalifah, Jutaan Jemaah Haji Larut dalam Doa dan Harapan

MAKKAH – Malam di Muzdalifah tak berdinding dan beratap. Hamparan langit menjadi selimut bagi jutaan jemaah haji yang berbaring bersimpuh, menatap bulan terang sambil memanjatkan doa.
Malam Selasa 26 Mei 2026 hingga subuh Rabu 27 Mei, jemaah melaksanakan mabit di dataran Muzdalifah.
Karpet merah yang digelar luas dipenuhi lautan manusia, termasuk rombongan dari Indonesia.
Pemandangan malam itu terasa khusyuk. Bulan menggantung besar di atas kepala, menemani jemaah yang larut dalam zikir, doa, dan air mata.

Ada yang mengangkat tangan memohon, bersumpah, ada yang duduk diam merenung, ada pula yang mencoba beristirahat sejenak setelah lelah menempuh wukuf di Arafah dan perjalanan panjang menuju Muzdalifah.
Udara gurun yang dingin menusuk kulit tak mampu mengalahkan hangatnya kekhusyukan.
Di sela waktu, jemaah juga memungut kerikil—bekal untuk ritual lempar jumrah di Mina nanti.
“Alhamdulillah, nikmat rasanya. Meski tidur hanya sebentar di sini, hati terasa tenang,” ujar Pipit, salah satu petugas haji.
Usai mabit dan mengumpulkan kerikil, jemaah mulai mengantre menaiki bus menuju Mina. Antrean panjang menguji kesabaran.
Namun di lapangan, ketua kloter mengatur agar jemaah tetap duduk hingga giliran tiba, sehingga bisa beristirahat sambil menunggu.
Satu per satu jemaah naik ke bus. Tujuan berikutnya, yakni Mina, tempat mereka akan beristirahat sebelum melanjutkan ritual lempar jumrah. (*/Red/MCH-2026)


