Jemaah Haji Berusia 103 Tahun Dalam Kondisi Sehat di Madinah, Siap Diberangkatkan ke Makkah
MADINAH – Mbah Mardijiyono, jemaah haji Indonesia yang berusia 103 tahun telah menjalani masa sembilan hari di Madinah.
Jemaah haji tertua asal Embarkasi Yogyakarta (YIA) kloter 9 ini, akan mengikuti pendorongan untuk berpindah ke Kota Makkah pada Senin sore (11/5/2026).
Kepala PPIH Daerah Kerja Madinah, DR. Khalilurrahman, Senin siang (11/5/2026), menyempatkan diri untuk menengok Mbah Mardijiyono, sekaligus sungkem, sebelum si Mbah diberangkatkan ke Makkah bersama rombongan jemaah haji reguler lainnya menggunakan bus.
Ditemui oleh Kadaker Khalilurrahman di kamarnya, Mbah Mardijiyono menunjukkan semangat yang masih menyala dan energi positif.
Dokter Kloter juga menyatakan Mbah Mardi sudah kembali sehat, meskipun sebelumnya sempat dirawat selama tiga hari di rumah sakit.
Mbah Mardijiyono disebut siap melanjutkan perjalanan ibadah haji menuju Makkah menggunakan armada bus, bersama-sama dengan jemaah lainnya.
“Saya sangat berbahagia bisa mengunjungi Mbah, dan alhamdulillah beliau dalam keadaan sehat. Semangat beliau menjadi inspirasi bagi kita semua. Komitmen Haji Ramah Lansia akan terus kami wujudkan dengan memberikan pelayanan dan pendampingan terbaik bagi jemaah, khususnya yang sudah lanjut usia,” ujar DR. Khalilurrahman kepada Media Center Haji, usai menengok Mbah Mardijiyono di kamarnya.
Dikatakan Kadaker, Mbah Mardijiyono siap untuk menempuh perjalanan darat selama 4-5 jam menuju Makkah bersama rombongan jemaah lainnya
“InsyaAllah beliau akan diberangkatkan secara reguler. Ini menunjukkan beliau sehat, alhamdulilah beliau sangat senang dan mengaku bahagia sekali, setelah menunggu selama bertahun-tahun akhirnya bisa melaksanakan ibadah haji,” ungkap Khalilurrahman.
dr. Dini Desi, dokter PHD Embarkasi YIA Kloter 09 juga mengungkapkan bahwa Mbah Mardijiyono saat ini dalam kondisi sehat.
“Setelah dirawat di rumah sakit selama tiga hari, sekarang si Mbah sudah di hotel kembali kondisinya amat baik, lebih baik dari yang sebelumnya. Tidak batuk lagi, sesak nafasnya juga sudah berkurang, nafsu makannya membaik,” ungkap dokter Dini.
Dokter Dini juga meyakini kesehatan Mbah Mardijiyono semakin baik, karena sudah mendapatkan rekomendasi dari dokter di Rumah Sakit.
“Kondisi si Mbak fit, siap, tambah sehat untuk bisa melanjutkan rangkaian ibadah haji. Sudah ada rekomendasi dari dokter yang menangani, sudah diperbolehkan pulang dengan pendampingan obat-obatan tertentu yang semoga menyehatkan si Mbah,” jelas dr. Dini.
“Jadi kesiapan fisik si Mbah insyaAllah sangat mendukung untuk diberangkatkan bersama jemaah yang lain. Ini hal yang kami syukuri karena nanti sore hari kami bertolak ke Makkah,” imbuhnya.
Diketahui, Mbah Mardijiyono saat dikunjungi oleh Kadaker Madinah, sempat berbincang-bincang dan mengaku sangat senang berada di Tanah Suci.
Mbah Mardijiyono juga sudah berziarah ke Raudhah atau Makam Rosulullah Muhammad SAW, dan ia memohon doa agar diberikan kesehatan dan panjang umur.
“Saya sangat senang sekali. Dimana-mana semua di sini saya mau,” ujar si Mbah, dengan terbata-bata.
Menurut dr. Dini, selama masa pemulihan, Mbah Mardijiyono dikenal sebagai pasien yang kooperatif.
Mbah Mardijiyono bahkan memiliki nafsu makan dengan baik saat dirawat di rumah sakit. Setiap hari, ia menyantap menu makanan bubur yang disediakan dengan lahap.
Dikatakan dokter, Mbah Mardijiyono mengaku sengaja banyak makan supaya cepet sembuh dan dibolehkan keluar dari rumah sakit.
“Makanannya bubur, enak, saya suka,” tutur si mbah lagi.
Dokter dan Kadaker Madinah juga coba bertanya mengenai rahasia kesehatan Mbah Mardijiyono, hingga mencapai usia lebih dari satu abad,
Menurut Mbah Mardijiyono, ia selalu menerima segala ketetapan Tuhan dengan ikhlas, memiliki fikiran yang tenang, serta tidak pernah merokok. (*/Red/MCH-2026)

