Kantor Urusan Haji KJRI Jeddah Urai Keruwetan Syarikah hingga Urus Jemaah Umrah Bermasalah
MAKKAH – Tak hanya aktif saat musim haji, Kantor Urusan Haji di lingkungan KJRI Jeddah bekerja sepanjang tahun menyiapkan layanan jemaah Indonesia di Arab Saudi.
Perlu diketahui, mulai dari negosiasi akomodasi hingga penanganan jemaah umrah yang ditelantarkan travel, semua jadi tanggung jawab kantor ini.
Pembantu Staf Teknis Kantor Urusan Haji KJRI Jeddah Zakaria Anshori menjelaskan posisi kantornya. Ia bilang, secara struktural Kantor Urusan Haji berada di bawah KJRI Jeddah.
“Namun secara fungsional dan anggaran berada di bawah Kementerian Haji dan Umrah RI,” kata Zakaria, Minggu (10/5/2026).
Di luar musim haji, tugas utama mereka ialah persiapan penyelenggaraan haji, termasuk koordinasi dengan Kementerian Haji Arab Saudi.
“Koordinasi terkait akomodasi, transportasi, konsumsi, dan kebutuhan operasional lainnya sebelum masa operasional haji dimulai,” ujarnya.
Kantor ini juga jadi garda depan saat jemaah umrah bermasalah. Masalah tersebut mulai dari kasus wanprestasi penyelenggara perjalanan ibadah umrah PPIU, pendampingan jemaah sakit, hingga pemulangan jemaah bermasalah.
Saat musim haji, personel Kantor Urusan Haji melebur ke struktur PPIH Arab Saudi.
Namun fungsi dukungan tetap jalan seperti memfasilitasi berbagai kebutuhan PPIH Arab Saudi, berupa penataan perkantoran sektor, layanan di bandara, hingga kebutuhan operasional lainnya.
Zakaria menilai haji tahun ini lebih baik dari tahun lalu. Evaluasi besar dilakukan soal percampuran syarikah.
Saat tahun lalu, ia bilang, banyak terjadi percampuran antar-syarikah sehingga cukup menyulitkan pengaturan jemaah.
“Pencampuran baik saat kedatangan di bandara maupun penempatan hotel sampai layanan di Arafah dan Mina,” katanya.
Potensi percampuran masih ada di kloter akhir karena penggabungan kursi kosong jemaah batal berangkat. Karena itu petugas dan jemaah diminta waspada mengenai identitas para pelayan.
Ia juga mengingatkan kartu nusuk wajib dibawa. Sebab, secara aturan jemaah tidak bisa masuk Masjidil Haram tanpa kartu nusuk.
Pemerintah Saudi, kata dia, rutin melakukan razia acak, termasuk di mal.
“Karena itu kami mengimbau agar kartu nusuk selalu dibawa ke mana pun pergi, bahkan difoto dan disimpan di telepon genggam sebagai cadangan,” tutup Zakaria.***

