Survei SMRC: 41% Warga Indonesia Menolak Mengakui Keberadaan Israel

JAKARTA – Survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) terkini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia terbelah sikapnya dalam memandang jalan keluar atas konflik Israel dan Palestina.

Survei itu menunjukkan mayoritas warga sekita 88% tahu bahwa terjadi peningkatan konflik antara Israel dan Palestina beberapa waktu terakhir.

Dari yang tahu konflik antara Israel dan Palestina, sekitar 35% setuju dengan opsi bahwa Negara Palestina dan negara Israel harus diakui adanya dan hidup berdampingan, dan sekitar 41% setuju dengan opsi bahwa Negara Israel tidak boleh diakui adanya karena berdiri di atas tanah Palestina. Sementara yang tidak punya sikap 24%.

Temuan itu sampaikan Direktur Komunikasi SMRC, Dr. Ade Armando, dalam peluncuran hasil survei SMRC bertajuk “Sikap Publik Nasional terhadap Konflik Israel dan Palestina” yang diselenggarakan secara daring pada Senin, 31 Mei 2021, di Jakarta. Survei melalui telepon ini dilakukan pada 25-28 Mei 2021 dengan sampel 1201 responden yang dipilih secara random. Margin of error diperkirakan +/- 2,9%.

Dikatakan Ade, temuan tersebut menunjukkan masih kuatnya penolakan terhadap berdirinya negara Israel. 

“Data menunjukkan mereka yang mendukung perdamaian dengan solusi dua negara hidup berdampingan masih lebih rendah dibandingkan mereka yang menganggap Israel harus diusir dari Palestina, seperti sikap Hamas selama ini,” ujar Ade dalam keterangan tertulis yang diterima Fakta Banten, Senin (31/5/2021).

Kartini dprd serang

Menurut Ade, terdapat pola jawaban berbeda antara kaum Muslim dan non-Muslim. Warga Muslim yang memilih opsi mengakui keberadaan kedua negara hidup berdampingan kata dia ada 32%, sedangkan yang memilih opsi tidak mengakui keberadaan negara Israel ada 43%, dan yang tidak punya pendapat ada 25%.

“Sementara itu mayoritas dari warga non-Muslim (56%) memilih opsi mengakui keberadaan kedua negara, sedangkan yang setuju dengan opsi bahwa negara Israel tidak boleh diakui karena berdiri atas tanah palestina ada 28%, dan yang tidak punya pendapat ada 16%,” sebutnya.

Disampaikannya, temuan Survei juga menunjukkan bahwa penolakan atas keberadaan Negara Israel cenderung lebih kuat di kalangan pendukung Prabowo dibandingkan pendukung Jokowi.

“Pada pemilih Jokowi, yang memilih opsi mengakui keberadaan kedua negara tersebut ada 37%, yang memilih opsi tidak mengakui negara Israel ada 40%, dan yang tidak menjawab 23%. Sementara pada pemilih Prabowo, yang memilih mengakui keberadaan kedua negara tersebut ada 28%, yang memilih opsi tidak mengakui negara Israel ada 49%, dan yang tidak menjawab 23%, terangnya.

Lebih jauh ia mengatakan, terdapat perbedaan juga terlihat antara pemilih partai politik. Yang memilih opsi mengakui keberadaan kedua negara paling banyak berasal dari massa pemilih partai nonparlemen (64%), selanjutnya massa pemilih PKB (58%) dan NasDem (51%). 

“Sedangkan yang memilih opsi tidak mengakui keberadaan Negara Israel karena berdiri di atas tanah Palestina paling banyak berasal dari massa pemilih PKS (60%), PAN (59%), Demokrat (53%), dan Gerindra (52%),” pungkasnya. (*/Faqih)

Polda