Distan Pandeglang Klaim Kerugian Dampak Tsunami Selat Sunda Capai 4,27 Miliar

PANDEGLANG – Terjangan gelombang tinggi Tsunami selat Sunda yang terjadi pada Sabtu (22/12/2018) lalu, ternyata berdampak pada lahan serta sarana dan prasarana pertanian yang dimiliki oleh Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang maupun warga yang lahannya tidak jauh dari bibir pantai.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang, Budi Januardi menyebutkan kerugian materi yang ditimbulkan akibat terjangan tsunami kemarin mencapai Rp. 4,27 miliar. Kerugian tersebut berupa rusak dan hilang alsintan milik pemerintah karena diterjang gelombang tinggi.

“Berdasarkan data sementara yang diperoleh saat ini kerugian akibat terjangan tsunami mencapai 4,27 miliar. Karena tsunami kemarin telah merusak serta menghilangnya Alsintan, gedung dan sarana prasarana yang dimiliki oleh distan maupun masyarakat,”ungkap budi kepada faktapandeglang.co.id, kamis (3/1/2019).

Budi menjelaskan, bahwa terjangan gelombang tsunami kemarin telah merusak sejumlah bangunan atau gedung yang baru saja dibangun pada tahun 2018 kemari.

Sankyu ks

Bangunan yang rusak tersebut diantaranya adalah bangunan desa mandiri benih serta sarana dan prasaannya senilai Rp. 250.juta, bangunan penggilingan padi beserta perlengkapan, Rp. 200 juta, bangunan dryer dan perlengkapan alsintan (Pengering Padi) 1 paket senilai Rp. 850.juta dan bangunan penyimpanan alsintan satu paket senilai Rp. 200 Juta.

“Selain bangunan, sarana produksi juga hilang terdampak tsunami, diantaranya adalah benih jagung hibrida sebanyak 1,2 ton senilai Rp. 48,5 juta, benih padi sebanyak 2.250 ton senilai Rp. 50.825.000 dan benih kedelai senilai Rp. 35,5 juta dan puluhan alsintan juga hilang diterjang gelombang tinggi, ” Bebernya panjang lebar.

Hilang dan hancurnya bangunan serta alsintan tersebut karena semua bangunan dan alsintan berada pada wilayah yang terdampak bencana yakni di desa sukanagara kecamatan carita.

Namun begitu, pihaknya sudah melaporkan kerugian akibat hantaman gelombang tersebut kepihak kementrian pertanian Republik Indonesia.

“Semuanya kami sudah laporkan ke Kementan RI dan kita tinggal mengunggu tindak lanjutnya,”imbuhnya. (Gatot)