Menarik! Pelepasliaran Buaya Muara di Ujung Kulon, Petugas Beri Nama Ayu Citra Lestari

PANDEGLANG– Video momen pelepasliaran seekor anak buaya muara di Taman Nasional Ujung Kulon beredar luas di masyarakat. Menariknya, salah seorang petugas memberikan anak buaya muara tersebut sebuah nama baknya seorang anak perempuan, yakni Ayu Citra Lestari.

Dalam video berdurasi 2 menit 39 detik, tampak sejumlah petugas dari Balai Taman Nasional Ujung Kulon membawa seekor anak buaya muara berukuran sekitar 130 centimeter. Sementara, keempat kaki buaya tersebut diikat tali.

Saat akan melepas ikatan pada kaki buaya, seorang petugas sempat melakukan sedikit ritual di air. Kemudian, ia pun tampak berbicara dengan bahasa sunda khas Banten kepada buaya tersebut sembari melepas ikatan pada kaki buaya dengan sebilah pisau.

Nitip ieu ngagaduhan cai ieu, nu ngagaduhan Muara Cilintang nitip ieu. Wayahna pang asuhkeun, pang rawatkeun. Nitip ulah khianat, ngan ku kami ieu rek di aranan. (Nitip ini ke yang punya air ini, yang punya Muara Cilintang. Tolong di asuh, mohon dirawat. Nitip jangan berkhianat, soalnya sama kami ini (buaya) mau dikasih nama),” ucap petugas tersebut sambil tangannya menyentuh air muara.

Cicing dia didieu nyah, dia rek diaranan ku aing, Ayu Citra Lestari. Cicing dia didieu, nu bageur nyah. Bisi aya keluarga kami nu nyambat kana maneh eta wayahna pang salametkeun. Ke disebut aran na Ayu Citra Lestari. (Tinggal kamu di sini ya, kamu mau dikasih nama, Ayu Citra Lestari. Tinggal kamu di sini, baik-baik ya. Kalau nanti ada keluarga kami yang bersentuhan dengan kamu, mohon diselamatkan ya. Nanti disebut namanya Ayu Citra Lestari),” ungkapnya sambil melepas ikatan kaki buaya.

Usai melepas ikatan pada kaki buaya tersebut, petugas itu pun meminta agar si buaya untuk segera pergi dan masuk ke dalam muara.

Geus geura leumpang kaditu los, geura leumpang. (Udah buru jalan ke sana sok, buru jalan),” pintanya ke si buaya sambil menunjuk ke arah muara.

Namun, nampak si buaya itu pun hanya terdiam meski ikatan pada kakinya telah dilepas. Sehingga petugas itu pun membantu dengan mengangkat di buaya agar lebih dekat dengan air.

Alhasil, setelah didekatkan dengan air, buaya itu pun langsung merangsek masuk ke dalam muara. Namun sebelum buaya masuk lebih dalam hingga tak terlihat, si petugas itu pun sempat meminta agar si buaya tidak menjadi nakal.

Tah pang urusankeun, pang rawatankeun tah si Ayu. Ulah neuheur. (Tuh mohon diurus, mohon dirawat tuh si Ayu. Jangan nakal),” ujarnya sambil melihat buaya masuk ke dalam muara.

Saat dikonfirmasi, Humas Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Andri Firmansyah membenarkan adanya pelepasliaran tersebut. Menurutnya, anak buaya muara tersebut awalnya ditemukan oleh warga Kampung Parung, Desa Cigorondong, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang berada di dalam kolam tambak udang milik warga pada Senin (6/9/2021) malam.

“Iya, itu petugas kami pas Senin sekitar jam 21.30 WIB kedatangan warga yang membawa anak buaya, dan menyerahkannya. Itu hasil tangkapan dari kolam peternak udang. Ditangkap karena dianggap mengganggu,” ucap Andri kepada awak media, Rabu (8/9/2021).

Menurut Andri, sebagai wujud konservasi alam dan menjaga kelestarian satwa di Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, maka pihaknya pun memilih untuk melepasliarkan anak buaya tersebut di Muara Cilintang, Taman Nasional Ujung Kulon.

Diakui Andri, jika dipilihnya Muara Cilintang lantaran lokasi tersebut merupakan salah satu lokasi yang menjadi habitat asli buaya muara. Disamping lokasi tersebut berada jauh dari pemukiman penduduk sehingga bisa meminimalisir terjadinya konflik manusia dengan buaya.

“Iya itu dilepas di Muara Cilintang pada Selasa (7/9/2021) jam 9 pagi. Karena memang di situ (Muara Cilintang) salah satu habitat dari buaya muara juga,” ungkapnya.

Ia pun menyampaikan apresiasi dan rasa terimakasihnya kepada warga yang sudah menyerahkan buaya muara tersebut ke pihaknya. Karena menurutnya, buaya muara merupakan jenis satwa liar dilindungi berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.

“Terimakasih kepada masyarakat Cigorondong yang memilih menyerahkan buaya tersebut ke petugas dengan tidak membunuh satwa tersebut,” tandasnya. (*/YS)

Demokrat
Royal Juli