William Damar Lukito, Lulusan ITB Termuda, Tercepat, dan IPK Sempurna

 

JAKARTA – William Damario Lukito menyandang gelar S2 Teknik Telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) di usia 22 tahun. Ia menjadi lulusan termuda dan tercepat dengan IPK 4.0 dalam wisuda periode Juli 2022.

Alumnus Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB itu tercatat menyelesaikan studi S2 dalam kurun waktu kurang dari setahun. Ia mengambil jalur fast track Program Penyatuan Sarjana Magister ITB.

Di balik pencapaian yang membanggakan tersebut, ada hal yang dilakukan William yang mungkin tidak dilakukan mahasiswa lain khususnya dalam belajar.

Kunci utama untuk mendapatkan IPK sempurna ala William adalah menyukai materi yang dipelajari. Dalam hal ini, mahasiswa juga perlu memiliki motivasi belajar.

“Pertama kita harus senang terhadap apa yang kita pelajari. Kita (juga) harus tahu motivasinya belajar suatu hal. Ketika sudah tahu dan matang, maka otomatis ketika mempelajari maka akan termotivasi dengan sendirinya,” ujarnya dikutip dari Detikedu.

Ketika merasa tidak paham tentang materi yang dipelajari, William menerapkan metode untuk fokus mendengarkan materi di kelas sambil mencatat hal yang belum bisa dipahami. Targetnya, minimal paham 50 persen materi yang disampaikan dosen.

Ks nu

“Jika memang tidak paham tentang materinya, metode saya adalah mendengarkan di kelas setidaknya lebih dari 50 persen materi harus masuk otak saya. Saya betul-betul memperhatikan sambil memegang kertas dan alat tulis untuk mencatat hal-hal yang sekiranya miss saat di kelas,” lanjutnya.

Materi kuliah jurusan Teknik Telekomunikasi ITB memang terkenal sulit bagi kalangan mahasiswa STEI ITB. Beberapa di antaranya Medan Elektromagnetik, Antena, dan Pengolahan Sinyal Waktu Kontinyu dan Pengolahan Sinyal Waktu Diskrit.

Selanjutnya, sepulang kuliah, ia akan mempelajari kembali materi yang ia catat sebelumnya. Menurut William, metode ini sangat membantu ketika menghadapi kuis, ujian tengah semester (UTS), maupun ujian akhir semester (UAS). Sehingga, tidak perlu belajar dengan sistem kebut semalam.

Kunci yang tak kalah penting lainnya, kata William, adalah memiliki teman belajar. Hal ini ia terapkan sejak masuk S1.

“Teman diskusi itu sangat penting. Ketika kita tidak mengerti suatu hal, itu ada baiknya diskusi,” tuturnya.

Selain cara belajar yang konsisten tersebut, keberhasilan William tak lepas dari dukungan orang tuanya. Ia mengenang, orang tuanya menanamkan nilai-nilai kedisiplinan dalam mengatur waktu hingga cara belajar. Selain itu, ia juga banyak diskusi dan berlatih sejak SD hingga SMA.

Ayah William yang juga alumnus ITB turut memotivasinya untuk bisa kuliah dengan baik di kampus almamater ayahnya itu. Ia menceritakan kerap diajak keliling kampus bersama ayahnya sejak ia TK. (*/Detik)

Cibeber nu