Pasca Tsunami, Pantai Anyer Mulai Ramai Dikunjungi Wisatawan

Gerindra Nizar

SERANG – Beberapa pekan pasca bencana gelombang Tsunami Selat Sunda yang diduga akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang menghempas pesisir Kabupaten Pandeglang dan Serang Provinsi Banten dan Provinsi Lampung, kondisi pariwisata di kawasan Anyer yang sempat terkena imbas kini mulai berangsur-angsur pulih dan mulai dikunjungi para wisatawan.

Meski dampak kerusakan dan korban jiwa di kawasan objek wisata Pantai Anyer yang masuk dalam wilayah Kabupaten Serang tidak separah di Kabupaten Pandeglang, namun, destinasi wisata andalan di Banten ini ikut terkena dampak sepinya wisatawan pada liburan Tahun Baru 2019 lalu. Hal ini bisa jadi dikarenakan selain letak pesisir Anyer berada di Selat Sunda, adanya kabar akan tsunami susulan membuat wisatawan takut untuk berkunjung.

Dari pantauan langsung faktabanten.co.id pada Selasa (7/1/2019) hingga Rabu (8/1/2019), kondisi infrastruktur akses jalan di kawasan Anyer yang tidak terkena dampak kerusakan mulai kembali normal dan ramai dilintasi kendaraan. Beberapa objek wisata, penginapan dan rumah makan meski tak seramai hari-hari biasanya, sudah mulai terlihat adanya pengunjung.

Fraksi serang
Fraksi

“Rasa was- was sih emang ada. Apalagi katanya ada tsunami susulan, mudah-mudahan gak ada aja mas,” kata salah satu wisatawan asal Jakarta, Dony kepada faktabanten.co.id

Menurut salah satu warga Sirih, Rahmat, walau masih merasa khawatir, ia tidak mengungsi dan masih tetap menjalani aktivitas sehari-harinya sebagai karyawan di salah satu hotel.

“Sehari setelah ada tsunami hotel sepi sampai liburan tahun baru yang biasanya ramai juga masih sepi. Tapi sekarang sudah mulai ada wisatawan yang nginep, saya harap sih gak ada tsunami susulan,” harap Rahmat.

Gelombang tsunami yang terjadi pada Sabtu (22/12/2018) malam silam, memang masih membawa suasana duka mendalam bagi masyarakat Banten. Akan tetapi tentunya kita tidak ingin terus larut dalam kesedihan dan keterpurukan itu. Kita perlu intropeksi dan belajar bersama dari peristiwa tersebut untuk bisa lebih menghormati alam sebagai makhluk seniornya manusia. Menjaganya dari kerusakan dan menjalin harmonisasi dengan alam. (*/Ilung)

Gerindra kuswandi