Tradisi Pengulasan Golok Ciomas Digelar Rutin Setiap 12 Mulud

SERANG – Tradisi pengulasan Golok Ciomas menggunakan Godam Denok kembali dilaksanakan sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya masyarakat Ciomas, Kabupaten Serang, Banten. Ritual tersebut rutin digelar setiap tanggal 12 Mulud.
Pewaris Godam Denok, Abah Duhari, mengatakan tradisi pemulasan atau pengulasan Golok Ciomas telah berlangsung secara turun-temurun. Dirinya mengaku menjadi generasi ketujuh yang meneruskan tradisi tersebut.
“Ritual pemulasan ini sudah dilakukan sejak dahulu. Saya sendiri merupakan generasi ketujuh,” kata Abah Duhari, Kamis (27/8/2026).
Menurutnya, pembuatan Golok Ciomas memiliki ketentuan khusus. Proses pembuatannya hanya dilakukan pada bulan Mulud, mulai tanggal 1 hingga 30 Mulud, dengan menggunakan material tertentu.
Salah satu material yang digunakan adalah besi inti yang berasal dari wilayah Kecamatan Ciomas. Dalam proses pembuatannya juga terdapat alat penempa khusus yang dikenal dengan nama Godam Denok.
“Pembuatan sama saja, tetapi ada alat penempa khusus namanya Godam Denok. Untuk Golok Ciomas memakai besi inti yang berasal dari Kecamatan Ciomas asli,” ujarnya.
Abah Duhari menjelaskan, Godam Denok memiliki peran penting dalam tradisi Golok Ciomas dan secara turun-temurun dikenal sebagai bagian yang menjadi ciri khas atau stempel Golok Ciomas.
Sementara dalam proses ritual, pengulasan dilakukan dengan cara mengoleskan Godam Denok pada Golok Ciomas. Proses tersebut dilakukan secara terukur dan dihitung berdasarkan waktu.
“Pengulasan itu semacam dioles dengan Godam Denok,” katanya.
Ia menyebut ritual tersebut juga memiliki tahapan khusus yang selama ini dijaga oleh para pewaris tradisi. Menurutnya, terdapat doa pembuka dan penutup dalam proses ritual, sementara bagian tertentu tetap menjadi rahasia yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam sejarah dan kepercayaan masyarakat, Golok Ciomas juga memiliki cerita mengenai keistimewaan tersendiri.
Abah Duhari mengatakan, berdasarkan cerita sejarah yang berkembang, luka akibat Golok Ciomas dipercaya sulit disembuhkan.
“Kalau kesaktian menurut sejarah begitu, kalau kena kulit sulit disembuhkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, tradisi pembuatan dan pengulasan Golok Ciomas telah berlangsung selama ratusan tahun dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Ciomas.
Pegiat Golok Ciomas, Bahroji, mengatakan pelestarian tradisi tersebut terus dilakukan secara swadaya oleh para pemilik dan pemerhati Golok Ciomas.
Menurutnya, keberadaan Golok Ciomas harus tetap dirawat dan dilestarikan, terlepas dari ada atau tidaknya dukungan pemerintah.
“Kalau kami semangat merawat atau melestarikan keberadaan Golok Ciomas. Mau ada ataupun tidak dukungan dari pemerintah, kami tetap jalan,” kata Bahroji.
Ia mengatakan, selama ini kegiatan pelestarian lebih banyak mengandalkan swadaya para pemilik Golok Ciomas. Bahroji mengaku sejak dirinya terlibat pada 2002, belum pernah mendapatkan bantuan pemerintah secara langsung untuk kegiatan tersebut.
“Sepanjang saya dari 2002 di sini tidak ada bantuan dari pemerintah. Peninjauan ada juga dari pimpinan daerah, tetapi realisasinya belum ada,” ujarnya.
Meski demikian, Bahroji memilih tetap berpikir positif terhadap kondisi tersebut. Menurutnya, terdapat pihak yang sebenarnya ingin membantu, tetapi terkendala aturan dan birokrasi.
“Bukan tidak berusaha, tetapi kami tidak mau mengemis juga. Sambil berjalan saja,” katanya.
Antusiasme terhadap tradisi pengulasan Golok Ciomas juga terlihat dari kedatangan masyarakat dan pemilik golok dari berbagai daerah.
Bahroji menyebut peserta maupun pemilik Golok Ciomas datang dari Palembang, wilayah lain di Pulau Sumatera, Garut, Bandung hingga Kalimantan.
Pengulasan tahun ini dimulai sekitar pukul 07.55 WIB. Berdasarkan pelaksanaan pada tahun sebelumnya, jumlah Golok Ciomas yang mengikuti proses pengulasan bahkan mencapai sekitar 2.000 bilah.
Bahroji menjelaskan, pengulasan tidak hanya dilakukan sekali. Dalam tradisi tersebut, proses pengulasan dilakukan selama tujuh kali Mulud.
“Semacam mengisi daya, dikenal dengan oles selama tujuh Mulud. Jadi, Golok Ciomas yang diulas selama tujuh kali dapat disebut sudah paripurna,” jelasnya.
Tradisi pengulasan Golok Ciomas dan penggunaan Godam Denok tersebut hingga kini terus dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya Ciomas. Para pegiat berharap tradisi yang telah diwariskan lintas generasi itu dapat terus bertahan dan dikenal oleh generasi muda.***


