Wakil Kepala SMKN 1 Anyer Tegaskan Tak Wajibkan Tes Kesehatan dan Narkoba pada Salah Satu Klinik 

 

CILEGON – Wakil Kepala Sekolah Bagian Kesiswaan SMKN 1 Anyer, A. Bahru Ulumuddin, meluruskan isu terkait dugaan kewajiban bagi calon murid baru untuk mengikuti tes kesehatan dan tes narkoba berbayar pada salah satu klinik ditunjuk oleh pihak sekolah.

Bahru juga menjelaskan bahwa pemeriksaan kesehatan mengutamakan tes buta warna, sebab hal ini dianggap tahapan penting dalam proses seleksi di SMK.

Pemeriksaan itu, kata dia, memiliki keterkaitan langsung dengan kesiapan siswa menghadapi pembelajaran praktik dan tuntutan dunia kerja.

“Untuk SMK, kami tekankan tes kesehatan pada aspek penglihatan, khususnya buta warna. Karena dalam pekerjaan teknis seperti penyambungan kabel atau pengoperasian mesin, kesalahan akibat gangguan persepsi warna bisa berakibat fatal,” ujar Bahru saat ditemui di sekolah, Jumat (18/7/2025).

Sementara itu, mengenai pelaksanaan tes narkoba, Bahru menjelaskan bahwa kebijakan tersebut telah diterapkan sejak beberapa tahun lalu.

Hal ini sebagai langkah preventif terhadap penyalahgunaan narkotika di kalangan pelajar.

“Kami tidak sembarang menerapkan tes narkoba. Ini berangkat dari pengalaman beberapa tahun lalu ketika ada siswa kami yang terindikasi menyalahgunakan narkoba. Saat itu kami segera berkoordinasi dengan BNN untuk proses rehabilitasi dan pendampingan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, tes narkoba hanya diberlakukan kepada siswa yang sudah dinyatakan lolos seleksi dan diterima sebagai murid baru, bukan dalam tahap pendaftaran.

“Biaya tes narkoba relatif tinggi. Karena itu, kami tidak membebankan tes ini sejak awal. Kami utamakan tes buta warna sebagai saringan awal. Tes narkoba baru dilakukan setelah siswa diterima,” jelas Bahru.

Menanggapi isu adanya penunjukan monopoli pada salah satu klinik, pihak sekolah secara tegas membantah. Bahru memastikan tidak ada kerja sama eksklusif dengan pihak manapun.

“Tidak ada penunjukan atau paksaan untuk melakukan tes di klinik tertentu. Kami tidak memiliki MoU dengan klinik manapun. Siswa dan orang tua bebas memilih klinik mana saja untuk pelaksanaan tes. Bahkan saya sampaikan langsung kepada wali murid yang bertanya,” tegasnya.

Sekolah hanya menyarankan agar tes narkoba dilakukan dengan tiga parameter pemeriksaan, yang dinilai cukup sebagai deteksi awal.

Lebih lanjut, Bahru menegaskan bahwa siswa yang terindikasi positif narkoba tidak serta-merta ditolak masuk sekolah.

Pihaknya tetap memberikan ruang pendidikan dengan pendekatan humanis dan pembinaan.

“Kalau ada yang terdeteksi positif, bukan berarti kami tutup pintu. Kami lakukan pencatatan dan pendampingan. Semua anak berhak mendapatkan pendidikan dan kesempatan untuk berubah,” ujarnya.

Dengan begitu, pihak sekolah mengimbau kepada para orang tua agar tidak segan berdiskusi dan menyampaikan permasalahan apapun kepada pihak sekolah.

“Sekolah selalu terbuka. Silakan komunikasi langsung bila ada kendala. Jangan ragu, karena kami ingin memastikan proses pendidikan berlangsung dengan transparan dan penuh keterlibatan orang tua,” pungkasnya. (*/Nandi)

WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien