Mahasiswa Unbaja Serang Keluhkan Ancaman Tidak Diluluskan jika Tak Ikuti Seminar Berbayar

SERANG – Sejumlah mahasiswa Universitas Banten Jaya (UNBAJA) mengeluhkan kebijakan kewajiban mengikuti seminar nasional berbayar yang dinilai memberatkan dan tidak transparan.
Salah satu mahasiswa yang enggan disebutkan namanya menyampaikan bahwa peserta yang tidak mengikuti seminar tersebut disebut-sebut terancam tidak dapat mengikuti sidang tugas akhir.
Seminar nasional yang diselenggarakan oleh program studi awalnya diumumkan sebagai kegiatan terbuka untuk umum, baik mahasiswa maupun pelajar, dengan biaya pendaftaran sebesar Rp25.000.
Namun, karena minimnya peminat, pihak program studi kemudian mengubah kebijakan dan menyatakan bahwa seminar tersebut wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa Teknik Industri semester akhir.
“Awalnya hanya diumumkan terbuka. Tapi karena sepi peminat, tiba-tiba jadi wajib untuk kami yang semester akhir. Lalu dinyatakan sertifikatnya jadi syarat pendamping ijazah, bahkan akhirnya disebut sebagai syarat sidang tugas akhir. Padahal sebelumnya tidak ada ketentuan seperti itu,” ujar sumber tersebut kepada wartawan, Sabtu (14/6/2025).
Ia menambahkan, perubahan kebijakan yang mendadak dan berulang kali tersebut menimbulkan keresahan di kalangan mahasiswa.

Mereka menilai kebijakan itu mengarah pada komersialisasi pendidikan yang dilakukan secara sepihak oleh pihak program studi.
“Masalah utamanya bukan pada biaya, tapi bagaimana kami merasa dijadikan objek komersialisasi pendidikan. Ketika kami mengkritik, risikonya nilai kami bisa langsung E tanpa alasan jelas,” jelasnya.
Mahasiswa berharap pihak kampus melakukan evaluasi terhadap kebijakan-kebijakan akademik yang bersifat komersial dan membuka ruang dialog antara mahasiswa dan pihak penyelenggara pendidikan.
“Kami ingin ada ruang keterlibatan dalam perencanaan kegiatan kampus. Jangan hanya mahasiswa yang dibebani, tapi tidak dilibatkan,” katanya.
Praktik serupa bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, beberapa kegiatan berbayar juga diadakan dengan dalih kepentingan akademik, namun minim transparansi dan cenderung memberatkan mahasiswa.
Keluhan ini menambah daftar panjang kritik mahasiswa terhadap pengelolaan akademik di UNBAJA Serang.
Sebelumnya, kampus tersebut juga sempat menjadi sorotan atas dugaan pungutan liar dalam penyaluran Beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan kebijakan akademik yang dinilai menyulitkan mahasiswa. (*/Nandi)


