Viral Dugaan Bullying di ICM Serpong; Siswa Sampai Cedera dan Akhirnya Pilih Pindah Sekolah
TANGERANG – Sekolah Internasional Insan Cendekia Madani (ICM) BSD tengah disorot publik baru-baru ini.
Dugaan kasus perundungan (bullying) yang terjadi saat kegiatan Pramuka pada 26 Agustus 2026 viral di media sosial Threads.
Perhatian netizen tertuju setelah akun @paper.thoughts35 mengaku sebagai keluarga korban mengunggah kronologi lengkap disertai bukti foto dan tulisan tangan korban.
Utas tersebut hingga Minggu (27/9/2026) telah ditonton lebih dari 570 ribu kali dan menuai ribuan reaksi.
Dalam utas, keluarga korban menyebut korban inisial X mendapat tindak kekerasan verbal dan fisik dari 6 orang seniornya di lingkungan boarding ICM.
Kejadian berlangsung di lapangan sekolah saat kegiatan Pramuka. Awalnya kedua tangan korban dipegang ke belakang oleh 1 orang pelaku yang diketahui sebagai provokator.
“Lalu korban didudukkan, kemudian mata hingga mulut korban dililit dengan dasi (tersisa hidung yang terbuka),” tulis akun tersebut.
Korban kemudian dipukuli dengan buku SKU (Buku Pramuka) dan dilempari karet rumput sintetis yang biasa ada di lapangan. Korban tidak berdaya karena mulut tertutup dan tidak ada yang menolong. Disebutkan, di area lapangan tersebut tidak terdapat CCTV.
“Kejadian berlangsung cukup lama hingga akhirnya korban dilepaskan, lalu beberapa teman seangkatan korban baru berani menghampiri dan mengatakan bahwa telinga korban berdarah, dan ternyata luka robek yang perlu dijahit,” tulisnya.
Bukti luka di bagian belakang telinga korban dengan darah mengucur juga diunggah. Foto diberi keterangan waktu 27 Agustus pukul 4.44 PM saat dibawa ke rumah sakit.
Selanjutnya pada malam kejadian, orang tua korban langsung menjemput korban untuk pulang dan mendapat pengobatan lebih lanjut.
Pertemuan mediasi kedua antara pihak korban dan para pelaku beserta orang tua disebut telah dilakukan. Namun keluarga korban menyayangkan satu orang tua pelaku yang disebut sebagai provokator tidak hadir.
Di kolom balasan utas yang sama, akun @rabiehidayat12 yang mengaku sebagai orang tua langsung dari korban menuliskan komentar yang ikut viral.
“Saya adalah orang tua langsung dari korban, salah satu pelaku memang adalah anak wamen,” tulisnya.
Komentar itu telah disukai 2,1 ribu kali dan dibagikan 220 kali.
Hingga kini klaim soal latar belakang keluarga pelaku tersebut belum terverifikasi secara resmi dan masih menjadi spekulasi di media sosial.
Melansir kumparan, Keluarga siswa mengungkapkan korban menjadi sasaran kekerasan oleh enam senior. Mata dan mulut korban dililit menggunakan dasi pramuka hingga hanya hidung yang terbuka.
“Kejadiannya cukup lama hingga akhirnya teman seangkatan korban hampiri korban. Telinga korban berdarah, perlu dijahit. Diduga lukai telinga pakai benda tajam, bisa dari name tag besi atau ring kacu pramuka,” kata keluarga korban.
Bukti luka robek di belakang telinga korban yang harus dijahit juga viral, dengan timestamp 27 Agustus pukul 4.44 PM saat korban dibawa berobat.
Dilakukan Mediasi dan Tak Tempuh Jalur Hukum
Setelah kejadian tersebut, pihak sekolah disebut menggelar mediasi. Namun, menurut keluarga korban, proses mediasi baru dilakukan setelah keluarga beberapa kali meminta pihak sekolah untuk menindaklanjuti persoalan tersebut.
“Mediasi itu diadakan oleh pihak sekolah namun setelah beberapa kali dikejar dulu oleh keluarga korban,” tutur keluarga korban.
Keluarga menyebut peristiwa tersebut terjadi dalam rangkaian kegiatan Pramuka. Dalam proses penanganan kasus, pihak sekolah disebut mengakui adanya kelalaian dari pembimbing Pramuka.
Meski mengungkap dugaan kekerasan yang dialami korban, keluarga mengatakan hingga saat ini mereka belum memilih untuk membawa perkara tersebut ke jalur hukum atau melaporkannya kepada polisi.
Keluarga mengaku memiliki kekhawatiran kasus tersebut tidak akan terselesaikan apabila ditempuh melalui jalur hukum.
Korban Pindah Sekolah
Setelah kejadian, korban disebut tidak lagi melanjutkan pendidikan di sekolah tersebut.
Menurut keluarga, keputusan untuk keluar berasal dari keinginan korban sendiri. Keluarga menyebut korban masih mengalami trauma dan tidak ingin tetap berada di sekolah yang sama dengan siswa yang diduga terlibat.
“Korban sudah keluar dari sekolah tersebut tentunya atas kemauan korban sendiri karena masih trauma jika harus tetap ada di sekolah yang sama dengan pelaku,” tuturnya.
Dia mengungkapkan alasan korban pindah sekolah karena takut berpapasan dengan siswa yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut.
Keluarga mengatakan korban masih sering berpapasan dengan pelaku, terutama dengan siswa yang mereka sebut sebagai pihak yang menjadi provokator.
“Karena di sekolah korban masih sering berpapasan dengan pelaku (terutama yang provokator),” kata dia.
Meski begitu, korban bersama keluarganya masih mendatangi sekolah pada 8 September 2026. Kedatangan tersebut dilakukan untuk bertemu kembali dengan kepala sekolah.
Keluarga ingin mengetahui perkembangan penanganan kasus sekaligus menyampaikan keputusan korban untuk keluar dari sekolah.
Pada saat yang sama, korban juga mengambil barang-barang miliknya yang masih berada di kamar boarding.
“Korban dan keluarga tanggal 8 September 2026 datang ke sekolah untuk bertemu kepala sekolah lagi, menanyakan perkembangan kasus, dan sekalian menginfokan bahwa korban memutuskan ingin keluar saja serta mengambil barang-barang korban di kamar boarding,” tandas dia. (*/Ajo)


