Banjir Jadi Langganan, Korban di Kubangsari Ciwandan Ngungsi Ke Masjid

CILEGON

CILEGON – Intensitas hujan yang tinggi hingga menyebabkan banjir terjadi di wilayah Kota Cilegon sejak Sabtu (10/2/2018) dinihari hingga siang ini.

Pantauan Fakta Banten, banyak rumah yang terendam banjir karena air tak kunjung surut. Seperti di lingkungan Kebanjiran dan Pintu Air, Kelurahan Kubangsari, Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon.

Warga yang terdampak bajjir di Kelurahan Kubangsari, mulai terlihat mengungsi ke Masjid serta sekretariat pemuda setempat.

“Warga yang terkena banjir hampir semuanya dan mengungsi di masjid sama sekretariat pemuda,” ungkap salah seorang tokoh masyarakat setempat Muhammad Ibrohim Aswadi.

Banjir kali ini, menurutnya, adalah peristiwa kedua kalinya, setelah pada tahun 2017 lalu pernah terjadi di wilayahnya.

“Ratusan rumah terendam banjir dan ini kali kedua banjir terparah yang terjadi kang,” ungkapnya.

Ia juga berharap dari pemerintah serta intansi terkait dan DPRD Kota Cilegon segera menangani masalah tersebut.

“Kami harap masalah ini segera terselesaikan, dan pemerintah dalam hal ini DPRD dan Walikota serta intansi terkait bisa duduk bareng bersama masyarakat untuk menyelesaikan permasalahan yang tidak kunjung selesai,” papar pria yang akrab disapa Kang Bobi ini.

Sementara menurut Ridwan salah satu warga Link Kebanjiran mengatakan, banjir terjadi sejak Sabtu dinihari. Rumahnya sering menjadi langganan banjir sejak 9 tahun terakhir.

Ia menyesalkan lantaran tidak adanya solusi dari Pemerintah atas musibah banjir ini. Padahal pemukimannya sudah lama menjadi langganan banjir.

“Yang kami butuhkan solusi kongkret dari pemerintah. Bukan hanya bantuan instan saat banjir tapi solusi dar akar permasalahannya yang tak kunjung teratasi,” katanya dengan nada kesal.

Diketahui, ratusan rumah warga terendam debit air yang tinggi. Air yang merendam tak kujung surut lantaran tak ada jalan keluar air dari pemukiman warga, pasalnya gorong-gorong nampak menyempit dan drainase yang kecil.

Bobi juga menambahkan, dalam kasus banjir terdapat beberapa element yang bertanggung jawab.

“Pihak industri bertanggung jawab untuk muaranya. Kereta Api, karena gorong-gorong rel sedikit dan Pekerja Umum Provinsi yang membuat gorong-gorong jalan Cilegon sempit,” tegas Bobi lagi menyikapi kondisi lingkunganya. (*/Cholis/Temon)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *