Wisata Anyer

Proyek Pabrik Baja Baru Tiga Juta Ton, Harapan Krakatau Steel Hidupkan Kembali Blast Furnace

 

CILEGON – Rencana Danantara baru-baru ini yang akan suntik dana tambahan untuk PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) sebagai upaya peningkatan kapasitas produksi baja hingga 3 juta ton disambut baik pihak perusahaan.

Corporate Secretary (Corsec) PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Fedaus, pada Selasa (24/2/2024) mengatakan rencana tersebut merupakan wujud komitmen perseroan dalam memperkuat struktur industri baja dari hulu ke hilir.

“Rencana 3 juta ton produk baja sebagai bagian dari memperkuat hilirisasi, itu adalah bagian dari upaya pemerintah memaksimalkan produksi baja lokal,” ujar Fedaus dalam keterangannya, Selasa (24/2/2026).

Proyek ini bagian dari penguatan hilirisasi industri nasional, sekaligus upaya menghidupkan kembali fasilitas Blast Furnace Krakatau Steel yang gagal beroperasi sejak 2019 karena tidak efisien.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam mendukung restrukturisasi perusahaan dan perbaikan Krakatau Steel.

Proyek ini akan memaksimalkan produksi baja dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor bahan baku maupun produk setengah jadi.

Fedaus menjelaskan, proyek pengembangan 3 juta ton tersebut terbagi dalam dua fokus utama, yakni pengolahan bijih besi serta pengolahan nikel ore untuk kebutuhan stainless steel slab.

“Nah, project ini ada dua bagian. Satu itu untuk pengolahan biji besi, dan satu lagi itu adalah untuk pengolahan nikel ore untuk stainless steel slab,” lanjutnya.

Saat ini, proyek tersebut masih berada pada tahap studi kelayakan atau feasibility studies guna memastikan kesiapan teknis, finansial, serta aspek pasar sebelum direalisasikan.

“​Project ini sekarang posisinya sedang dilakukan feasibility studies yang diperkirakan selesai dalam 4 sampai 6 minggu,” jelasnya.

Menurut Fedaus, kajian tersebut telah dimulai sejak Januari dan ditargetkan rampung pada Maret 2026 agar manajemen dapat segera menentukan langkah lanjutan.

“Sudah dilakukan dari Januari, mudah-mudahan Maret sudah selesai,” harapanya.

Ia memaparkan, studi kelayakan dilakukan untuk menghitung kemampuan pabrik di Cilegon dalam mengolah bahan baku, termasuk mempertimbangkan jarak dan biaya distribusi bijih besi dari daerah penghasil.

“Feasibility studies ini dibuat untuk melihat kelayakan apakah pabrik Cilegon mampu untuk melakukan produksi karena untuk biji besi adanya di Papua dan Kalimantan, ​Nah, ini kan harus dihitung cost-nya,” tutur Fedaus.

Selain faktor biaya, perusahaan juga menilai kualitas dan kadar Fe (Iron) dari bijih besi agar sesuai dengan spesifikasi produksi yang dibutuhkan.

“Nah, kita juga harus melihat kadarnya, kualitas biji besinya atau Fe (Iron)-nya bagus atau sesuai spek atau tidak. Nah, kemudian untuk nikel ore atau nikel, nickel ore itu sementara ini kan ada di Morowali, di Sulawesi,” jelasnya lagi.

Aspek pasar turut menjadi perhatian, terutama terkait ketersediaan offtaker di dalam negeri untuk menyerap produk hasil pengolahan nikel.

“​Nah, tapi kita juga harus tahu offtaker-nya, ada tidak pembelinya di dalam negeri. Karena selama ini Morowali itu kan ekspor, Jadi pembelinya dari luar,” ungkap Fedaus.

Ia menegaskan, seluruh keputusan strategis, termasuk kemungkinan aksi korporasi lanjutan, akan sangat bergantung pada hasil studi kelayakan yang tengah berjalan.

“Tapi apakah Krakatau Steel akan melakukan take over atau tidak, ini kan tergantung nanti hasil dari feasibility,” katanya.

Meski masih dalam tahap kajian, Fedaus menilai peluang proyek tersebut cukup menjanjikan bagi perbaikan kinerja perusahaan serta kebangkitan industri baja nasional.

“Tapi kalau melihat peluang, memang bagus peluangnya untuk kemajuan dan upaya perbaikan di Krakatau Steel,” jelasnya.

Ia juga memastikan bahwa proyek peningkatan kapasitas 3 juta ton ini tidak berkaitan dengan kerja sama sebelumnya dengan pihak lain dan sepenuhnya menjadi inisiatif internal perusahaan bersama mitra strategisnya.

“​Project 3 juta ton ini tidak ada kaitannya dengan Krakatau Posco. Dulu memang sempat ada pembicaraan dengan Posco terkait ini, tapi ini 100% untuk Krakatau Steel dan Danantara. Sejauh ini gitu,” pungkasnya. (*/ARAS)

WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien