PPIH Bimbad Jelaskan Adab Berziarah ke Makam Baqi Bagi Jemaah Haji dan Umrah, Harus Khusyuk dan Tertib
MADINAH – Jemaah haji dan umrah asal Indonesia diminta mematuhi adab dan tata tertib saat berziarah ke Makam Jannatul Baqi, Madinah Al-Munawwarah.
PPIH Bimbad Agus Susanto menjelaskan hal-hal yang harus diperhatikan saat beriziarah.
Sebab, makam tersebut merupakan salah satu pemakaman tertua yang menjadi tempat peristirahatan para sahabat utama Rasulullah SAW, serta anggota keluarga beliau.
Khususnya para sahabat-sahabat utama berada di Baqi ini, termasuk Sayyidina Utsman, Sayyidina Ali.
Untuk para istri-istri Rasulullah SAW seperti Sayyidah Hafshah juga berada di Jannatul Baqi.
“Begitu juga Sayyidina Hasan bin Ali atau Husein bin Ali juga berada di sini bersama Ibunda Fatimah Az-Zahra,” ujar Agus.
PPIH Bimbad merinci terdapat empat adab utama agar jemaah tidak melanggar ketentuan otoritas keamanan Arab Saudi. Pertama meluruskan niat.
“Meniatkan betul-betul ziarah bukan untuk kesyirikan. Kita mengambil ibrah atau kebaikan bahwasanya mengingat mati adalah sesuatu yang disunnahkan atau dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,” paparnya.
Kedua menjaga sikap dan suara. Jemaah dilarang berteriak, mengangkat suara, berdesak-desakan, serta mengambil foto atau video.
“Jangan sampai kita sibuk untuk memfoto ataupun memvideo karena termasuk yang dilarang para pemegang keamanan atau kedisiplinan yang ada di Baqi,” jelasnya.
Adapun untuk larangan berfoto grup di dalam, karena hal itu akan menjadi perhatian askar dan membahayakan bagi jemaah-jemaah haji ataupun umrah.
Ketiga tidak berhenti lama dan membentangkan tulisan. Ketika berziarah, tidak perlu untuk berhenti, berdo’a seperti berziarah di Indonesia.
“Karena termasuk yang tidak diperbolehkan oleh askar-askar yang ada di Kota Suci Madinah Al-Munawwarah ini,” ungkapnya.
Keempat tertib masuk dan keluar area. Jemaah diimbau masuk dengan khusyuk, berjalan perlahan sambil membaca shalawat dan doa.
“Saat masuk, utamakan kita khusyuk, berjalan pelan-pelan sambil terus membaca selawat kepada Rasulullah, kemudian membacakan Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu seperti itu. Sambil terus berjalan, mengitari pemakaman Baqi kemudian keluar dengan tertib,” tuturnya.
PPIH Bimbad juga menjelaskan perbedaan sistem pemakaman di Arab Saudi dengan di Indonesia.
Menurut Ustaz Agus, makam di Makkah, Madinah, dan wilayah Saudi lainnya tidak menggunakan lahat.
“Satu liang di kota Madinah ataupun di kota Makkah, dan di Saudi pada umumnya, makam berbeda dengan di Indonesia. Yang satu makam satu lahat atau satu liang, satu lahat,” kata dia.
“Di sini dia tidak menggunakan lahat, tapi hanya lubang. Jadi untuk makam umum, satu lubang itu bisa terdiri 10 sampai 15 jenazah,” sambungnya.
Ia merinci prosesnya, setelah jenazah pertama itu masuk di dalam, maka jenazah ini akan ditutup dengan jerami, ketika sudah tertutup, apabila ada jenazah lagi yang akan dimakamkan, maka ditaruh di atasnya. Kemudian ditutup kembali dengan jerami.
Apabila belum ada makam yang akan dimakamkan, maka ditutup lubangnya, atau liangnya, kuburan di atasnya. Selanjutnya apabila ada lagi, dibuka baru dimasukkan lagi di atas jerami tersebut.
“Ditutup lagi sampai liang atau lubang itu penuh, barulah ditutup secara permanen dan diberikan batu saja. Tidak ada nisan, tidak ada tulisan,” paparnya.
Untuk keluarga jemaah yang dimakamkan di Baqi, petugas akan memberikan secarik kertas berisi alamat makam. Maka dari itu, perlu dijaga kertasnya.
Dalam kertas juga berisi tulisan apakah di Saraya, Ma’la, Baqi, kemudian di sana juga terdapat keterangan di lorong dan nomor berapa.
“Maka di situlah menjadi alamat kita ketika nanti ziarah di kemudian harinya, agar tidak kehilangan jejak di mana dimakamkan orang-orang yang kita cintai tersebut,” jelasnya.
Agus menerangkan keutamaan Makam Baqi terletak pada kedekatannya dengan Masjid Nabawi. Makam tersebut keistimewaannya terletak berdekatan dengan Rasulullah SAW.
“Rasul pun di masa hidup beliau, beliau masih sering untuk mengunjungi atau menziarahi Baqi. Apalagi ketika sahabat Rasulullah SAW saat itu dirasa betul-betul sudah kuat imannya, jauh dari kesyirikan,” terangnya.
Ia berharap, jemaah Indonesia dapat menjaga ketertiban dan nama baik bangsa dengan mengikuti seluruh aturan yang berlaku di Tanah Suci. (*/Red/MCH-2026)

