Wisata Anyer

Tradisi Prah-Prahan di Kampung Palupuy Kabupaten Serang, Kearifan Lokal yang Tetap Dilestarikan

SERANG – Setiap momen Rebo Wekasan, atau Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriah, warga Kampung Palupuy, Desa Sindangkarya, Kecamatan Anyar, Kabupaten Serang, memiliki tradisi unik yang hingga kini masih terus dilestarikan.

Tradisi tersebut dikenal dengan sebutan Prah-Prahan atau Ngeriung, yakni kegiatan berkumpul bersama yang dilakukan warga sejak pagi hingga sore hari.

Tidak hanya berlangsung di masjid, kegiatan ini juga semarak hingga ke jalan-jalan kampung.

Kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut menjadi salah satu tradisi yang selalu dinantikan masyarakat Kampung Palupuy.

Warga bersama-sama mempersiapkan berbagai jenis makanan untuk kemudian dinikmati dan dibagikan dalam acara puncak Prah-Prahan.

Sejak pagi hari, para pemuka agama di kampung tersebut menggelar pembacaan Syekh Barzanji di masjid setempat.

Kegiatan tersebut berlangsung hingga sore hari, sementara warga mulai memasak berbagai hidangan untuk acara puncak yang digelar menjelang Maghrib.

“Prah-prahan sama dengan selamatan atau babacakan bersama sesama tetangga. Kita ngampar di pinggir jalan menggunakan daun. Katanya, tradisi ini sebagai bentuk ikhtiar untuk menghindarkan penyakit yang datang,” ujar Cokro, warga Kampung Palupuy, Rabu (12/8/2026).

Menurut Cokro, tradisi Prah-Prahan juga menjadi bentuk ungkapan rasa syukur warga kepada Allah SWT atas rezeki dan keberkahan yang telah diberikan kepada masyarakat Kampung Palupuy.

“Kalau kata Pak Ustaz, ini ungkapan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Jadi Prah-nya dilaksanakan sore antara waktu Ashar dan Maghrib, karena diyakini sebagai waktu yang baik untuk berdoa,” terangnya.

Ia berharap tradisi Prah-Prahan tersebut dapat terus dilaksanakan setiap tahun dan keberadaannya tetap dijaga oleh generasi penerus.

Selain menjadi ajang kebersamaan, warga meyakini tradisi tersebut membawa keberkahan selama pelaksanaannya tetap berada dalam koridor ajaran Islam.

“Kita berharap ada barokah dari doa dan kebersamaan warga dalam acara tradisional ini. Selama kegiatan warisan leluhur kami ini tidak menyimpang dari akidah, kami akan terus menjaganya,” tandasnya.

Tradisi Prah-Prahan menjadi gambaran bagaimana kearifan lokal, kebersamaan, dan rasa syukur masyarakat masih terjaga di tengah perkembangan zaman.

Bagi warga Kampung Palupuy, tradisi tersebut bukan sekadar kegiatan tahunan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan warisan budaya yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.***

HUT Kota Serang DPMPTSP
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien