Dede Rohana Bawa Taekwondo Cilegon Membumi: Dari Swadaya Klub Menuju Pentas Nasional
CILEGON – Pengurus Cabang (Pengcab) Taekwondo Indonesia Kota Cilegon terus mendorong pengembangan olahraga dan pembinaan atlet secara mandiri.
Dengan 12 klub dan jumlah siswa yang cukup banyak, Taekwondo menjadi salah satu cabang olahraga yang memiliki basis pembinaan cukup kuat di Kota Cilegon.
Ketua Pengcab Taekwondo Indonesia Kota Cilegon, Dede Rohana Putra, mengatakan perkembangan olahraga di Kota Cilegon secara umum sudah menunjukkan hasil yang cukup baik, terutama jika dibandingkan dengan sejumlah daerah di Provinsi Banten.
“Ya, untuk dunia olahraga di Kota Cilegon, untuk level provinsi saya lihat cukup baik. Walaupun masih kalah misalnya beberapa prestasi oleh wilayah Tangerang Raya, ya,” kata Dede, Selasa (29/9/2026).
Menurut dia, capaian tersebut menjadi modal untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan dan prestasi atlet Cilegon.
Ke depan, ia berharap Kota Cilegon mampu menjadi salah satu daerah yang diperhitungkan dalam olahraga tingkat provinsi hingga nasional.
“Cuman memang targetnya bagaimana supaya kita bisa jadi leader, bisa jadi juara umum misalnya di tingkat provinsi, supaya nanti bisa tembus sampai ke nasional,” ujarnya.
Dede menilai peluang tersebut terbuka apabila pembinaan atlet dilakukan secara konsisten dan mendapat dukungan yang semakin kuat dari berbagai pihak.
“Memang masih butuh perhatian serius, khususnya memang dalam hal pembinaan atlet sama penganggaran cabang olahraga,” jelasnya.
Khusus Taekwondo, Dede mengatakan Pengcab memiliki kekuatan dari sisi organisasi. Sebanyak 12 klub yang tersebar di Kota Cilegon menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan pembinaan atlet.
“Kalau saya sebagai Ketua Pengcab Taekwondo memang kita melihat kehadiran pemerintah ya dalam hal ini uang pembinaan memang sangat terbatas,” ungkapnya.
Meski dukungan anggaran pemerintah masih terbatas, kegiatan pembinaan tetap berjalan melalui semangat kemandirian klub dan dukungan para siswa.
“Jadi memang hidup dari swadaya sendiri, dari klub-klub, dari iuran siswa, gitu,” katanya.
Menurut Dede, kemandirian tersebut justru menjadi salah satu kekuatan Taekwondo Cilegon dalam menjaga keberlangsungan pembinaan.
Klub-klub aktif mengelola kegiatan sekaligus terus mendorong munculnya atlet-atlet baru.
“Alhamdulillah Taekwondo adalah salah satu Pengcab yang sudah hidup. Siswanya banyak, klubnya banyak,” ujarnya.
Dengan basis klub dan siswa yang cukup besar, Pengcab Taekwondo dapat lebih fokus melakukan pemantauan serta memberikan dukungan terhadap pembinaan yang dilakukan masing-masing klub.
“Jadi mereka kita tinggal monitor, kita tinggal support, memfasilitasi,” katanya.
Dede berharap sinergi antara pemerintah, Pengcab, klub, pelatih, dan atlet ke depan semakin kuat.
Menurutnya, dukungan tersebut dapat membuka ruang yang lebih besar bagi atlet Cilegon untuk berprestasi.
“Harapannya ke depan kita ingin nanti Pemerintah Kota Cilegon lebih perhatian lagi terhadap dunia olahraga,” ucapnya.
Ia juga mendorong agar semakin banyak event olahraga digelar di Kota Cilegon. Kompetisi yang rutin dinilai penting untuk memberikan pengalaman bertanding sekaligus mengukur perkembangan atlet.
“Salah satunya dengan membuat event-event olahraga, termasuk memberikan anggaran yang cukup, ya, memadailah,” katanya.
Dede optimistis peningkatan dukungan pembinaan akan ikut memperkuat motivasi dan fasilitas bagi para atlet. Dengan pembinaan yang semakin baik, peluang untuk meningkatkan prestasi juga semakin terbuka.
“Nah, mungkin itu kalau itu misalnya cukup anggarannya, pasti prestasinya juga meningkat karena anggaran untuk pembinaannya juga diperbesar,” jelasnya.
Di sisi lain, keterbatasan sarana dan prasarana tidak menghalangi klub-klub Taekwondo Cilegon untuk tetap aktif berlatih. Sebagian klub memanfaatkan fasilitas yang tersedia di lingkungan masyarakat.
“Sarana dan prasarana kita semuanya swadaya,” ungkap Dede.
Sejumlah klub memanfaatkan halaman masjid maupun fasilitas sosial dan fasilitas umum perumahan sebagai tempat latihan. Sebagian lainnya menggunakan tempat olahraga yang disewa secara mandiri.
“Klub-klub itu rata-rata ada yang numpang di halaman masjid, ada di fasos-fasum perumahan, ya,” katanya.
Dukungan swadaya juga dilakukan untuk memenuhi kebutuhan peralatan latihan dan pertandingan. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya komitmen klub dan Pengcab dalam menjaga pembinaan Taekwondo tetap berjalan.
“Termasuk misalnya matras dan lain sebagainya ya kita ada, tapi keterbatasan itu juga hasil swadaya kita,” pungkasnya.***


