Bukan Kali Pertama, Warga Cimenteng Jaya Lebak Kehilangan Kerbau, Abah Pudin Sebut Sudah Hampir 5 Kali
LEBAK– Hilangnya dua ekor kerbau milik Abah Pudin, warga Kampung Namohaur, Desa Cimenteng Jaya, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, disebut bukan kejadian pertama yang dialami warga di lingkungan tersebut.
Abah Pudin mengatakan, dalam kurun waktu sekitar dua tahun terakhir, warga setempat juga pernah mengalami kehilangan kerbau.
Bahkan, menurutnya, kejadian serupa diperkirakan sudah terjadi hampir lima kali atau lebih.
Pernyataan itu disampaikan setelah dua kerbau miliknya diketahui hilang pada Selasa (29/9/2026) dini hari.
Kedua kerbau tersebut sebelumnya masih berada di kandang yang lokasinya tidak jauh dari rumah dan berada di tengah permukiman.
“Di sini bukan habis karena dijual, tapi dimaling. Sudah hampir lima kali lebih warga sekitar mengalami kerbau hilang,” ujar Abah Pudin.
Ia menuturkan, sekitar dua tahun lalu juga terdapat warga di sekitar tempat tinggalnya yang kehilangan kerbau.
Namun, Abah Pudin tidak merinci identitas warga maupun jumlah ternak yang hilang dalam kejadian sebelumnya.
“Kalau yang kemarin itu baru sekitar dua tahun ada juga yang kemalingan. Bukan hanya itu, mungkin sudah hampir lima kali lebih,” katanya.
Untuk kejadian yang dialaminya, Abah Pudin masih melihat kedua kerbaunya berada di kandang sekitar pukul 23.00 WIB, Senin (28/9/2026).
Malam itu, ia membuat api unggun untuk menjaga ternaknya. Setelah itu, Abah Pudin masuk ke rumah untuk membuat kopi sambil menonton televisi.
Sekitar pukul 00.30 WIB, ia kembali keluar rumah untuk menyalakan api unggun. Namun, saat itu kedua kerbau sudah tidak berada di kandang.
“Sekitar jam 11 malam masih ada. Saya membuat api unggun untuk kerbau, kemudian masuk ke rumah membuat kopi sambil menonton TV. Sekitar setengah satu malam ketika keluar lagi, kerbaunya sudah tidak ada,” ujar Abah Pudin.
Menurutnya, kondisi lokasi kandang membuat kejadian tersebut terasa janggal. Kandang berada tidak jauh dari rumah dan di tengah kawasan permukiman.
Namun, ia mengaku tidak mendengar suara kerbau maupun aktivitas lain yang mencurigakan.
Tali yang biasa digunakan untuk mengikat kedua kerbau juga diketahui berada di sekitar sisi rumah.
“Yang membuat heran, tidak terdengar suara kerbau dibawa. Padahal kandangnya dekat rumah dan berada di tengah permukiman. Maling juga pakai talinya yang ada di samping rumah,” katanya.
Kedua kerbau tersebut, lanjut Abah Pudin, berukuran cukup besar dan dalam kondisi bunting.
Ia memperkirakan kerugian akibat kehilangan dua ekor ternak tersebut mencapai sekitar Rp80 juta.
Begitu mengetahui kerbaunya hilang, Abah Pudin bersama keluarga dan warga langsung melakukan pencarian. Penyisiran dilakukan ke sejumlah lokasi yang diperkirakan menjadi jalur pergerakan ternak.
Mukti, warga setempat yang juga merupakan saudara Abah Pudin, ikut dalam pencarian tersebut. Bersama warga lainnya, ia menyusuri sejumlah wilayah menggunakan sepeda motor.
“Dicari ramai-ramai. Kami menyusuri Pasir Eurih, Buah, Tegarama, Jangkar, Bojong sampai Ciampo. Saya bersama Tomi menggunakan motor untuk mencari,” kata Mukti.
Pencarian berlangsung hingga menjelang pagi. Setelah beberapa jam menyisir sejumlah lokasi, warga menghentikan pencarian sekitar pukul 04.00 WIB karena kedua kerbau belum ditemukan.
Dalam pencarian tersebut, warga juga memperoleh informasi mengenai adanya jejak yang diduga merupakan bekas kerbau di sekitar jembatan.
“Ada informasi dari anak-anak kampung, katanya terlihat bekas lewat kerbau di sekitar jembatan,” ujar Mukti.
Namun, hingga pencarian dihentikan sementara, keberadaan kedua kerbau tersebut belum diketahui.
Abah Pudin berharap kejadian yang menimpa dirinya menjadi perhatian warga, terutama karena menurut keterangannya kehilangan kerbau di lingkungan tersebut disebut telah terjadi berulang kali.
Ia juga berharap masyarakat yang mengetahui atau menemukan keberadaan kedua ternaknya dapat segera menyampaikan informasi kepada keluarga.
Hingga berita ini disusun, dua ekor kerbau milik Abah Pudin masih dalam pencarian. (*/Sahrul)


